Hasil diskusi pemicu 1 nm

Views:
 
Category: Entertainment
     
 

Presentation Description

tyyy

Comments

Presentation Transcript

Hasil diskusi pemicu 1 kelompok 2:

Hasil diskusi pemicu 1 kelompok 2 ARISKARILA ABEL FAA 115 011 TESSA WULANDARI FAA 115 012 ANDIKA FIRMANTARA FAA 115 013 DWINDO KUSUMO FAA 115 015 AULIA RAHMI FAA 115 016 RAYDITHO LAZUARDINOOR FAA 115 017 ULFA PRATIWI FAA 115 018 SITI RAHMAH FAA 115 019 APRILOIS PERDANA FAA 115 038 KADEK DIAH P.K. WARDANA FAA 115 049 FASILITATOR : dr. SUPAK SILAWANI

skenario:

skenario Pasien laki-laki berusia 1 tahun datang ke IGD diantar oleh ibunya dengan keluhan kejang 20 menit SMRS dengan durasi kejang 5 menit.

Diagnosis banding:

Diagnosis banding

Slide 13:

Refleks fisiologis : • Refleks adalah respon involunter terhadap suatu stimulus. • Syarat refleks : relaksasi, cepat, rangsangan yang diber harus adekuat • Refleks fisiologis terbagi menjadi 2 : 1. Refleks dalam (regang otot) : timbul oleh regangan otot yang disebabkan oleh rangsangan dan sebagai jawabannya, otot berkontraksi, contoh : refleks triceps, refleks biceps, dll 2. Refleks superfisial : timbul akibat tersangsangnya kulit atau mukosa yang mengakibatkan berkontraksinya otot yang ada di bawah atau di sekitar area yang dirangsang, contoh : refleks dinding perut superfisial,kremaster, kornea, anus superfisial.

Interpretasi data tambahan:

Interpretasi data tambahan Identitas : - nama : an.J - Usia : 1 thn - jenis kelamin : laki-laki

Slide 18:

Anamnesis Hasil Keluhan utama Kejang 20 menit yg lalu durasi kejang 5 mnt sifat muncul = saat kejang pasien tidak sadar , badan kaku , mata menonjol ke atas , tdk keluar busa dari mulut , sadar sebelum dan sesudah kejang . Keluhan lain Ada demam tinggi sejak tadi malam BAB 3x sejak tadi malam , konsistensi cair , volume ½ gelas belimbing , warna kuning kehijauan , dan berlendir , darah (-) Pasien kurang minum , dan BAK warna kuning . Upaya pengobatan Ibunya memberi obat penurun panas 6 jam yg lalu . RPK Sehat Riwayat kehamilan Ibu sehat selama kehamilan ANC 4x Selama kehamilan kelahiran Tempat kelahiran : rumah sakit Penolong persalinan : dokter Cara persalinan : spontan pervaginam Cukup bulan Keadaan waktu lahir , BB 3kg, TB: 49CM, bayi setelah dilahirkan menangis APGAR 10 Riwayat perkembangan - tengkurap : 6 Bulan - berjalan : 11 bulan - duduk :8 bulan - berbicara : 12 bulan - berdiri : 9 bulan

Slide 19:

Anamnesis Hasil Riwayat pemberian ASI ASI Eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan ASI +MP ASI Riwayat imunisasi BCG : 0 bulan DPT/DT 3x Polio 3x Hepatitis b 3x Campak 1 kali usia 9 bulan Riwayat sosial dan ekonomi Tinggal bersama kedua org tua Ada pembantu 1 org Rumah 36m2, kondisi bersih dan baik Pekerjaan org tua PNS

0:

0

Pemeriksaan fisik:

Pemeriksaan fisik Keadaan umum : rewel Kesadaran : compos mentis BB : 10kg dan TB : 55cm Tanda vital : - suhu : 39,4°c; – nadi : 124x/ mnt ( reguler ) kuat angkat ; -RR: 24x/ mnt Kepala : normocepali , deformintas (-), jejas (-), ubun-ubun rata, rambut hitam lebat , distribusi merata Mata : palpebra edem (-), konjungtiva anemis (-), sklera putih , pupil isokor diameter 3cm, kornea jernih , gerak bola mata baik , air mata kurang ( penanda dehidrasi ) Telinga : auricula dan canalis auditory externa normal, mastoid tidak ada nyeri tekan .

Pemeriksaan fisik(next):

Pemeriksaan fisik (next) Hidung : normal, sekret negatif , epitaksis negatif Bibir : simetris , kemerahan , dan mukosa kering ( penanda dehidrasi ) Mulut : bentuk normal, gusi normal, arcus pallatum normal, lidah tdk merah kotor dan ukuran normal, tonsil T1 Leher : kaku kuduk (-), masa tdk ada Thoraks : - inspeksi : bentuk simetris , datar , jejas (-), deformitas (-), penonjolan (-) - palpasi : benjolan (-), nyeri tekan (-), fremitus taktil normal - perkusi : sonor - auskultasi : suara dasar nafas vesikuler , suara jantung normal, tdk ada suara tambahan

Pemeriksaan fisik(next):

Pemeriksaan fisik (next) Abdomen : - inspeksi : simetris , datar , jejas (-), dilatasi vena(-) - auskultasi : bising usus meningkat - perkusi : hipertimpani , asites (-) - palpasi : supel , nyeri tekan (-), hepar&lien teraba membesar , turgor <1dtk Genital : Berkembang dgn baik Neurologi : refleks fisiologis normal, refleks patologis ( babinsky , brudzinski I & II, kerning(-), tanda tetani ), uji sensibilitas normal, nervus cranialis I-XII normal.

Pemeriksaan penunjang:

Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan darah rutin Pemeriksaan kimia darah : Gds : 105 normal pemeriksaan hasil Nilai normal Hb 12g/dl 10-17g/dl Ht 36% 29-54% leukosit 12500 5000-10000 sel /mm3 trombosit 250000 150000-450000mm3

Pemeriksaan penunjang(next):

Pemeriksaan penunjang (next) pemeriksaan hasil Nilai normal natrium 138mmol/L 135-144mmol/L Kalium 4,5mmol/L 3,6-5,2mmol/L Klorida 110mmol/L 97-106mmol/L

diagnosis:

diagnosis Kejang demam simpleks Diare akut , Dehidrasi ringan sedang et causa infeksi bakteri

tatalaksana:

tatalaksana Abcd : Airway : jalan nafas , longgarkan pakaian pasien , jaga patensi jalan nafas ( misalnya ada dahak bisa disedot ) Breathing : oksigenasi ( nasal kanul 1-2 liter/ menit ) Circulation : Infus RL : ?? Drugs : Infus : RL 10 cc/ kgBB / dalam 1 jam KAEN 4B In jeksi : Antibiotik Paracetamol 10-15 mg/ kgBB Ranitidin Oral: Polysilen granul Probiotik Zinc 20mg/ hari selama 10 hari Oralit Diazepam 0,3-0,5/ kgBB /8jam jika demam lebi dari 38,5C Diet: rendah serat

DEFINISI KEJANG DEMAM:

DEFINISI KEJANG DEMAM Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38˚C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium.

klasifikasi:

klasifikasi Kejang Demam Sederhana (Simpleks) Kejang Demam Kompleks Kejang umum tonik, klonik, atau tonik-klonik, Tanpa gerakan fokal anak dapat terlihat mengantuk setelah kejang Berlangsung singkat <15 Menit Tidak berulang dalam 24 jam Tanpa kelainan neurologis sebelum dan sesudah kejang Kejang fokal/ Parsial, atau kejang fokal menjadi umum Berlangsung >15 Menit Berulang dalam 24 jam Ada kelainan neurologis sebelum atau sesudah kejang

Slide 33:

Kejang Tonik : Ekstensi atau fleksi tonik kepala, batang tubuh, atau ekstremitas tiba tiba selama bbrp detik disertai gang.kesadaran. Kejang Klonik : Gejala yang terjadi hampir sama dengan kejang mioklonik, tetapi kejang yang terjadi berlangsung lebih lama, biasanya sampai 2 menit. Kejang Tonik-Klonik Sering disebut dengan kejang grand mal. Kesadaran hilang dengan cepat dan total disertai kontraksi menetap dan masif di seluruh otot. Mata mengalami deviasi ke atas. Fase tonik berlangsung 10 - 20 detik dan diikuti oleh fase klonik yang berlangsung sekitar 30 detik. Selama fase tonik, tampak jelas fenomena otonom yang terjadi seperti dilatasi pupil, pengeluaran air liur, dan peningkatan denyut jantung. Kejang Mioklonik Ditandai dengan kontraksi otot bilateral simetris yang cepat dan singkat. Kejang yang terjadi dapat tunggal atau berulang . Kejang Atonik Hilangnya tonus mendadak dan biasanya total pada otot anggota badan, leher, dan badan. Durasi kejang bisa sangat singkat atau lebih lama. Kejang Absans Hilangnya kesadaran sesaat (beberapa detik) dan mendadak disertai amnesia. Serangan tersebut tanpa disertai peringatan seperti aura atau halusinasi, sehingga sering tidak terdeteksi. Kejang umum

Slide 34:

Kejang umum gejala 1. "Grand Mal" atau Generalized tonik-klonik Tidak sadar, kejang, kekakuan otot 2. Absans kehilangan kesadaran singkat 3. mioklonik Sporadis (terisolasi), gerakan menyentak 4. klonik Berulang-ulang, gerakan menyentak 5. Tonic Kekakuan otot, kekakuan 6. atonic Kehilangan otot Kejang parsial, Fokal gejala 1. Sederhana (awareness dipertahankan) a. motor Sederhana b. Sensory Sederhana c. Sederhana Psikologis Sebuah. Menyentak, kekakuan otot, kejang, kepala-balik  b. Sensasi yang tidak biasa mempengaruhi baik  visi  , pendengaran, penciuman rasa, atau sentuhan  c. Memori atau emosional gangguan 2. Complex (Penurunan kesadaran) Otomatisasi seperti bibir , mengunyah, gelisah, berjalan dan berulang-ulang lainnya, tak sadar tapi gerakan terkoordinasi 3. kejang parsial dengan generalisasi sekunder Gejala yang awalnya terkait dengan kesadaran yang kemudian berevolusi menjadi kehilangan kesadaran dan kejang-kejang.

EPIDEMIOLOGI KEJANG DEMAM:

EPIDEMIOLOGI KEJANG DEMAM Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6 bulan – 5 tahun. Insidens di negara-negara barat berkisar antara 3-5%. Di Asia berkisar anatara 4,47% di singapura, sampai 9.9% di jepang. Data di Indonesia belum ada secara nasional. Sekitar 80% diantaranya adalah kejang demam simpleks. Sedikit lebih banyak pada laki-laki dibanding perempuan.

ETIOLOGI KEJANG DEMAM:

ETIOLOGI KEJANG DEMAM Kejang demam terjadi karena lepasnya sitokin inflamasi (IL-1-beta), atau hiperventilasi yang menyebabkan alkalosis dan meningkatkan PH otak sehingga terjadi kejang. Demam yang memicu kejang berasal dari ekstrakranial, paling sering disebabkan : - Infeksi saluran pernafasan akut - Otitis media akut - Infeksi saluran cerna Infeksi saluran kemih USIA -terjadi 6 bulan-6 tahun Kejang demam sebelum 5-6 bulan disebabkan oleh infeksi SSP Kejang demam >6 tahun, perlu pertimbangan ferbrile seizure plus (FS+) GEN Resiko meningkat 2-3x bila saudara kejang demam Resiko meningkat 5% bila orang tua menderita kejang demam

PATOFISIOLOGI:

PATOFISIOLOGI

Slide 39:

Hubungan demam dengan kejang Demam meningkatkan Cerebral blood flow dan meningkatkan kebutuhan 02 dan glukosa sehingga menyebabkan gangguan pengaliran ion-ion keluar masuk sel Menurunkan nilai ambang kejang sel-sel yg belum matang Metabolisme basal meningkat , sehingga timbunan asam laktat dan CO2 yang akan merusak neuron.

Slide 41:

Kejang epilepsi dipicu oleh perangsangan sebagian besar neuron secara berlebihan , spontan , dan sinkron sehingga menyebabkan aktivitas fungsi motorik ( kejang ), sensorik ( sensasi ), otonom , atau fungsi kompleks .

TANDA DAN GEJALA:

TANDA DAN GEJALA Kejang demam Kejang pada anak disertai dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dengan cepat yang disebabkan oleh infeksi susunan saraf pusat, misalnya tonsilitis, otitis media kut, bronkitis, furunkulosis Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam Berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik, fokal atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri.

DIAGNOSIS anamnesis:

DIAGNOSIS anamnesis KU : Kejang Dimulai dari riwayat perjalanan penyakit sampai tjd kejang lalu mencari faktor pencetus atau penyebab kejang jika ada umumnya pada anak, berlangsung pd permulaan demam akut Serangannya berupa kejang klonik umum atau tonik klonik singkat Tanyakan riw. Kejang sebelumnya, penggunaan obat, trauma, gejala infeksi, nyeri atau cedera akibat kejang. Riwayat imunisasi Mulut tidak mengeluarkan busa, ada demam, tanyakan BABnya.

DIAGNOSIS pemeriksaan fisik:

DIAGNOSIS pemeriksaan fisik Status sekarang : Keadaan Umum, kesadaran, nadi, r espirasi, suhu tubuh , BB, tinggi badan , s tatus gizi . Cari tanda-tanda trauma akut di kepala dan adanya kelainan sistemik, infeksi, terpapar zat toksik. Cari kelainan mukosa kulit/subkutan yang menyeluruh. Kepala : Bentuk (normochephali)Rambut (hitam, lurus, tidak mudah dicabut), Kulit, Mata (sklera, konjungtiva ananemis, tidak cekung), Telinga (simetris, liang lapang, serumen), Hidung (septum deviasi, sekret, pernafasan cuping hidung), Mulut (bibir, lidah kotor, faring tidak hiperemis, tonsil ditengah) Leher : Bentuk, Trakhea, KGB, Kaku kuduk Thorax : Bentuk (normal, simetris), Retraksi Inspeksi (datar dan simetris), Palpasi (nyeri tekan, turgor, raba hepar dan lien), Perkusi (timpani), Auskultasi bising usus) Genitalia externa : Kelamin (laki- laki, anus, kelainan) Extemitas

DIAGNOSIS pemeriksaan penunjang:

DIAGNOSIS pemeriksaan penunjang Pemeriksaan feces (penyebab infeksi spt bakteri, cacing) Darah rutin : Hb, Hematokrit, LED, Leukosit, Trombosit. Pemeriksaan laboratorium (darah lengkap, elektrolit, dan gula darah), Pungsi lumbal, EEG.

pencegahan:

pencegahan Pencegahan kejang demam dapat dilakukan dengan usaha menurunkan suhu tubuh pasien. Usaha tersebut dapat berupa pemberian obat penurun panas seperti parasetamol dan ibuprofen. Serta dengan pemberian kompres air hangat pada dahi, ketiak, dan lipatan siku.

TATALAKSANA EPILEPSI:

TATALAKSANA EPILEPSI Penatalaksanaan dalam epilepsi, secara umum ada 2 hal yaitu : Tatalaksana fase akut (saat kejang) Pengobatan epilepsi

Tatalaksana fase akut (saat kejang):

Tatalaksana fase akut (saat kejang) Pertama, pastikan jalan napas bebas, ventilasi dan sirkulasi dalam keadaan baik. Longgarkan pakaian yang ketat, baringkan anak dalam posisi miring agar lendir atau cairan dapat mengalir keluar. Leher dan rahang hiperekstensi agar jalan napas bebas. Boleh masukkan handuk kecil ke dalam mulut untuk mencegah lidahnya tergigit, namun jangan dipaksa baik menggunakan benda keras maupun jari , agar tidak ada gigi yang tanggal dan tertelan atau teraspirasi.

Slide 50:

Lakukan pemeriksaan tekanan darah, suhu, dan glukosa darah. Singkirkan setiap penyebab berbahaya yang dapat menyebabkan kejang seperti trauma, infeksi, atau keracunan.

Pengobatan epilepsi:

Pengobatan epilepsi Obat lini pertama : Asam valproat 10-14 mg/KgBB/hari, dalam 2-3 dosis Fenobarbital 4-5 mg/KbBB/hari, dalam 2 dosis Karbamazepin 10-30 mg/KbBB/hari, dalam 2-3 dosis Fenitoin 5-7 mg/KgBB/hari, dalam 2 dosis

Obat lini kedua:

Obat lini kedua Topiramate (Topamax) Dosis inisial 1-3 mg/KgBB/hari, naikkan perlahan dengan interval 1-2 minggu Lamotrigine (Lamictal) Dosis inisial 0,15 mg/KgBB/hari dalam 2 dosis selama 2minggu, lalu naikkan menjadi 0,3 mg/KgBB/hari dalam 2 dosis Levetirasetam (Keppra) Dosis inisial 10 mg/KgBB/hari dalam 2 dosis ACTH atau steroid dapat digunakan untuk infantile spasm atau epilepsi berat tidak terkontrol dengan medikasi lain

TATALAKSANA KEJANG DEMAM:

TATALAKSANA KEJANG DEMAM Saat kejang, pastikan jalan napas tidak terhalang. Pakaian ketat dilonggarkan, anak diposisikan miring agak lendir atau cairan dapat mengalir keluar. Periksa tanda vital, baik pernapasan, nadi, dan suhu.

Slide 54:

Berikan antipiretik seperti parasetamol 10-15 mg/KgBB/kali, sampai 4-5x atau ibuprofen 5-10 mg/KgBB/kali sampai 3-4x. Penggunaan salisilat tidak dianjurkan. Kemudian lanjutkan dengan tata laksana kejang akut pada anak. Bila dirumah dapat diberikan diazepam rektal 5 mg (BB<10 Kg) atau 10 mg (BB>10 Kg)

Sesudah Kejang:

Sesudah Kejang Pencegahan Intermitten Antikonvulsan segera diberikan pada waktu pasien demam. Pencegahan intermiteten disarankan pada pasien dengan kejang demam kompleks yang rekuren (suhu rektal lebih dari 38,5 C). Berikan diazepam oral 0,3 mg/KgBB sampai 3x sehari. Diazepam rektal 5 mg atau 10 mg (cara ini relatif aman, dengan efek samping yang minor seperti letargi, iritabilitas, dan ataksia yang dapat dikurangi dengan menurunkan dosis.

Pencegahan Terus-Menerus:

Pencegahan Terus-Menerus Pencegahan dilakukan dengan mengkonsumsi antikonvulsan setiap hari, namun penggunaannya harus hati-hati mengingat efek samping dari antikonvulsan yang digunakan.

Slide 57:

Antikonvulsan yang menjadi pilihan untuk profilaksis terus-menerus : Fenobarbital 3-4 mg/KgBB perhari, dibagi 2x sehari. Sodium Valproate 15-40 mg/KgBB perhari, dibagi 2-3x dosis.

Slide 58:

Antikonvulsan tersebut diberikan secara terus menerus selama 1 tahun sejak kejang demam terakhir, dan diberhentikan perlahan-lahan dalam 1-2 bulan.

prognosis:

prognosis Dubia ad bonam

authorStream Live Help