Sosio - Tawuran di Kalangan Remaja

Views:
 
Category: Entertainment
     
 

Presentation Description

No description available.

Comments

Presentation Transcript

TUGAS SOSIOLOGI: 

TUGAS SOSIOLOGI TENTANG TAWURAN DIKALANGAN REMAJA

NAMA KELOMPOK 1. Gea Cameiliasari 2. Nurul Utami 3. Nurul Vellayeti 4. Rakhmiana 5. Rini Rinelly 6. Shintya Maulida : 

NAMA KELOMPOK 1. Gea Cameiliasari 2. Nurul Utami 3. Nurul Vellayeti 4. Rakhmiana 5. Rini Rinelly 6. Shintya Maulida

1. Latar Belakang Masalah Seolah-olah nurani tidak lagi diyakini olehpara remaja, lebih-lebih apabil amelihatbanyaknya tawuran pelajar akhir-akhir ini. Dengan garangnya api kebencian merasuki pelajar seperti mafia hendak menunjukkan keperkasaannya. Dan kekerasan, dianggap sebagai solusi yang paling tepat dalam menyelesaikan suatu masalah tanpa memikirkan akibat-akibat buruk yang ditimbulkan. Pada saat bersamaan masyarakat hanya bisa menyaksikan kekerasan demi kekerasan terjadi dihadapan mereka. Dan sering kali mencaci perbuatan mereka tanpa berusaha mencari solusi yang bijak akan permasalahan tersebut. Memojokkan mereka dari sudut pandang negatif permasalahan yang ada. Seolah-olah seperti seorang terdakwa yang telah mendapat vonis hukum, yang dipastikan sebentar lagi akan dimasukkan kedalam penjara. Padahal sebenarnya tidak bisa dikatakan sepenuhnya bahwa kesalahan itu berasal dari dalam diri atau faktor internal pelajar sendiri. : 

1. Latar Belakang Masalah Seolah-olah nurani tidak lagi diyakini olehpara remaja , lebih-lebih apabil amelihatbanyaknya tawuran pelajar akhir-akhir ini . Dengan garangnya api kebencian merasuki pelajar seperti mafia hendak menunjukkan keperkasaannya . Dan kekerasan , dianggap sebagai solusi yang paling tepat dalam menyelesaikan suatu masalah tanpa memikirkan akibat-akibat buruk yang ditimbulkan . Pada saat bersamaan masyarakat hanya bisa menyaksikan kekerasan demi kekerasan terjadi dihadapan mereka . Dan sering kali mencaci perbuatan mereka tanpa berusaha mencari solusi yang bijak akan permasalahan tersebut . Memojokkan mereka dari sudut pandang negatif permasalahan yang ada . Seolah-olah seperti seorang terdakwa yang telah mendapat vonis hukum , yang dipastikan sebentar lagi akan dimasukkan kedalam penjara . Padahal sebenarnya tidak bisa dikatakan sepenuhnya bahwa kesalahan itu berasal dari dalam diri atau faktor internal pelajar sendiri .

Masyarakat yang peduli terhadap lingkungan remaja menjadi sangat penting untuk menciptakan suasana yang bersahabat dengan mereka. Masyarakat sering tidak peka terhadap respon yang ditimbulkan remaja. Sehingga tidak sedikit remaja mengalami semacam gejolak jiwa yang berupa agresi guna menunjukkan keberadaan mereka dalam suatu lingkungan. Hal itu menimbulkan gejolak jiwa berupa kepenatan yang membumbung menjadi gundukan stress dan mencari sebuah pelampiasan. Hal tersebut sering kali tersalurkan dalam perbuatan negatif, berkumpul dengan sekelompok preman dan secara tidaklangsung menjadi bagian dari mereka. Karena di dalam kelompok barunya, mereka mendapat pengakuan sebagaimana yang selama ini tidak didapat kan dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Dari situlah dimulainya pembelajaran kekerasan, dilingkungan baru yang tanpa kenal akan aturan, norma, adat, dankesusilaan. : 

Masyarakat yang peduli terhadap lingkungan remaja menjadi sangat penting untuk menciptakan suasana yang bersahabat dengan mereka . Masyarakat sering tidak peka terhadap respon yang ditimbulkan remaja . Sehingga tidak sedikit remaja mengalami semacam g e jolak jiwa yang berupa agresi guna menunjukkan keberadaan mereka dalam suatu l i ngkungan . Hal itu menimbulkan gejolak jiwa berupa kepenatan yang membumbung menjadi gundukan stress dan mencari sebuah pelampiasan . Hal tersebut sering kali tersalurkan dalam perbuatan negatif , berkumpul dengan sekelompok preman dan secara tidaklangsung menjadi bagian dari mereka . Karena di dalam kelompok barunya , mereka mendapat pengakuan sebagaimana yang selama ini tidak didapat kan dalam keluarga , sekolah dan masyarakat . Dari situlah dimulainya pembelajaran kekerasan , dilingkungan baru yang tanpa kenal akan aturan , norma , adat , dankesusilaan .

2. IntiPermasalahan Pada bab ini penulis mencoba untuk memberikan sebuah gambaran dengan mengambil suatu contoh tawuran pelajar yang terjadi. Bengis dan kejamnya sekelompok mafia terekam jelas pada tawuran pelajar berujung maut yang terjadi di kotaTangerang. Furqon (18), pelajar kelas tiga Otomotif I, SMK Otomotif Alhusna, Kota Tangerang, meregang nyawa setelah dikeroyok puluhan siswa SMK Voktek Tangerang. Informasi yang dihimpun detikcom, kejadian tersebut terjadi di Jl TMP Taruna, Kota Tangerang, sekitar pukul 13.00 WIB, Jumat (7/8/2009). SaatFurqon yang hendak pulang sedang menunggu angkot di Jalan Daan Mogot, tepatnya samping kantor Pemkot Tangerang lama, tiba-tiba datang puluhan pelajar SMK Voktek. Puluhan pelajar itu lansung menyerang Furqon dengan berbagai senjata tumpul. Serangan mendadak itu tak bisa dihindari Furqon. Remaja itu pun menjadi bulan-bulanan hingga akhirnya jatuh terkapar dijalanan. Sadisnya, hal itu tak membuat para pelajar Voktekpuas. Mereka menginjak-nginjak tubuh Furqon yang sudah tidak berdaya sebelum meninggalkannya. Warga disekitar lokasi berusaha menolong korban dengan membawanya ke RSUD Tangerang. Namun sebelum sempat ditangani tim medis, Furqon menghembuskan nafasnya yang terakhir. Petugas Polsek Tangerang Kota, yang mendengar kejadian itu lansung melakukan pengejaran terhadap para pelaku. Puluhan siswa SMK Voktek yang belum jauh dari lokasi berhasil diciduk. “Sampai saat ini kami masih melakukan pemeriksaan terhadap pelaku pengeroyokan itu,” kata Wakapolsek Tangerang, AKP Arif. (detikcom-2009). : 

2. IntiPermasalahan Pada bab ini penulis mencoba untuk memberikan sebuah gambaran dengan mengambil suatu contoh tawuran pelajar yang terjadi . Bengis dan kejamnya sekelompok mafia terekam jelas pada tawuran pelajar berujung maut yang terjadi di kotaTangerang . Furqon (18), pelajar kelas tiga Otomotif I, SMK Otomotif Alhusna , Kota Tangerang , meregang nyawa setelah dikeroyok puluhan siswa SMK Voktek Tangerang . Informasi yang dihimpun detikcom , kejadian tersebut terjadi di Jl TMP Taruna , Kota Tangerang , sekitar pukul 13.00 WIB, Jumat (7/8/2009). SaatFurqon yang hendak pulang sedang menunggu angkot di Jalan Daan Mogot , tepatnya samping kantor Pemkot Tangerang lama, tiba-tiba datang puluhan pelajar SMK Voktek . Puluhan pelajar itu lansung menyerang Furqon dengan berbagai senjata tumpul . Serangan mendadak itu tak bisa dihindari Furqon . Remaja itu pun menjadi bulan-bulanan hingga akhirnya jatuh terkapar dijalanan . Sadisnya , hal itu tak membuat para pelajar Voktekpuas . Mereka menginjak-nginjak tubuh Furqon yang sudah tidak berdaya sebelum meninggalkannya . Warga disekitar lokasi berusaha menolong korban dengan membawanya ke RSUD Tangerang . Namun sebelum sempat ditangani tim medis , Furqon menghembuskan nafasnya yang terakhir . Petugas Polsek Tangerang Kota, yang mendengar kejadi a n itu lansung melakukan pengejaran terhadap para pelaku . Puluhan siswa SMK Voktek yang belum jauh dari lokasi berhasil diciduk . “ Sampai saat ini kami masih melakukan pemeriksaan terhadap pelaku pengeroyokan itu ,” kata Wakapolsek Tangerang , AKP Arif . (detikcom-2009).

Itulah sekilas masalah yang akan kita kaji dan uraikan dalam presentasi kali ini. Bagaimana permasalahan itu hadir dan mengapa kejadian itu terjadi. Dan bagaimana meminimalisir kejadian-kejadian tawuran pelajar. : 

Itulah sekilas masala h yang akan kita kaji dan uraikan dalam presentasi kali ini . Bagaimana permasalahan itu hadir dan mengapa kejadian itu terjadi . Dan bagaimana meminimalisir kejadian-kejadian tawuran pelajar .

3. Pembahasan masalah Apabila mengkaji masalah tawuran pelajar di tangerang tersebut lebih mendalam, apa yang sebenarnya terjadi di tangerang maka tidak bisa menyalahkan pelajar begitu saja. Pertanyaan yang akan timbul adalah 1) sudahkah masyarakat memperhatikan apa sebenarnya keinginan mereka sehingga mereka mencari pelampiasan-pelamapiasan yang berujung tindakan anarki? 2) Apa penyebab mendasar yang menyebabkan mereka menjadi manusia kasar dan tak bernurani? 3) Mengapa bisa terjadi demikian? 4) Siapa yang harus disalahkan? Berbagai pertanyaan itu akan senantiasa timbul dan secara tidak langsung seolah menyindir masyarakat karena sejatinya masyarakat adalah bagian dari mereka. : 

3. Pembahasan masalah Apabila mengkaji masalah tawuran pelajar di tangerang tersebut lebih mendalam , apa yang sebenarnya terjadi di tangerang maka tidak bisa menyalahkan pelajar begitu saja. Pertanyaan yang akan timbul adalah 1) sudahkah masyarakat memperhatikan apa sebenarnya keinginan mereka sehingga mereka mencari pelampiasan-pelamapiasan yang berujung tindakan anarki ? 2) Apa penyebab mendasar yang menyebabkan mereka menjadi manusia kasar dan tak bernurani ? 3) Mengapa bisa terjadi demikian ? 4) Siapa yang harus disalahkan ? Berbagai pertanyaan itu akan senantiasa timbul dan secara tidak langsung seolah menyindir masyarakat karena sejatinya masyarakat adalah bagian dari mereka .

Itulah sekilas betapa pentingnya masyarakat tahu bagaimana masalah ini perlu untuk dikaji. Sehingga diharapkan masyarakat dapat meminimalisir segala bentuk potensi-potensi yang menimbukan kejadian tersebut, yang terutama sekali adalah tawuran pelajar. Karena kita tahu bahwasanya dampak tawuran tidak hanya pada pelaku tawuran itu sendiri. Namun akan berpengaruhjuga terhadap lingkungan sekitarnya. Seperti rusaknya bangunan umum, kemacetan, sehingga menimbulkan proyeksi gangguan dalam aktivitas masyarakat sehari-hari. : 

Itulah sekilas betapa pentingnya masyarakat tahu bagaimana masalah ini perlu untuk dikaji . Sehingga diharapkan masyarakat dapat meminimalisir segala bentuk potensi-potensi yang menimbukan kejadian tersebut , yang terutama sekali adalah tawuran pelajar . Karena kita tahu bahwasanya dampak tawuran tidak hanya pada pelaku tawuran itu sendiri . Namun akan berpengaruhjuga terhadap lingkungan sekitarnya . Seperti rusaknya bangunan umum , kemacetan , sehingga menimbulkan proyeksi gangguan dalam aktivitas masyarakat sehari-hari .

LandasanTeori I. Pengertian “Tawuran” dalam kamus bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai perkelahian yang meliputi banyak orang. Sedangkan “pelajar” adalah seorang manusia yang belajar. Sehingga apabila kita menarik garis besarnya yaitu perkelahian antar banyak orang yang tugas pelakunya adalahmanusia yang sedang belajar. Ironis memang orang yang sedang belajar melakukan perkelahian, namun itu kenyataan yang terjadi. Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan kedalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik. 1. Pada delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat. : 

LandasanTeori I. Pengertian “ Tawuran ” dalam kamus bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai perkelahian yang meliputi banyak orang . Sedangkan “ pelajar ” adalah seorang manusia yang belajar . Sehingga apabila kita menarik garis besarnya yaitu perkelahian antar banyak orang yang tugas pelakunya adalahmanusia yang sedang belajar . Ironis memang orang yang sedang belajar melakukan perkelahian , namun itu kenyataan yang terjadi . Secara psikologis , perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency ). Kenakalan remaja , dalam hal perkelahian , dapat digolongkan kedalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik . 1. Pada delikuensi situasional , perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “ mengharuskan ” mereka untuk berkelahi . Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat .

2. Pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti anggotanya, termasuk berkelahi. II.Tinjauan psikologi Penyebab remaja terlibat perkelahian pelajar dalam pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungan di dalam diri individu (sering disebut kepribadian, walau tidak selalu tepat) dan kondisi eksternal. Begitu pula dalam hal perkelahian pelajar. Bila dijabarkan, terdapat sedikitnya 4 faktor psikologis mengapa seorang remaja terlibat perkelahian pelajar. Faktor-faktor tersebut antara lain: : 

2. P ada delikuensi sistematik , para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng . Di sini ada aturan , norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti ang g otanya , termasuk berkelahi . II. Tinjauan psikologi P enyebab remaja terlibat perkelahian pelajar d alam pandangan psikologi , setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungan di dalam diri individu ( sering disebut kepribadian , walau tidak selalu tepat ) dan kondisi eksternal . Begitu pula dalam hal perkelahian pelajar . Bila dijabarkan , terdapat sedikitnya 4 faktor psikologis mengapa seorang remaja terlibat perkelahian pelajar . Faktor-faktor tersebut antara lain:

Faktor internal. Remaja yang terlibat perkelahianbiasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks disini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang. Tapi pada remaja yang terlibat perkelahian, mereka kurang mampu untuk mengatasi, apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya. Mereka biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang / pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkat untuk memecahkan masalah. : 

Faktor internal. Remaja yang terlibat perkelahianbiasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks . Kompleks disini berarti adanya keanekaragaman pandangan , budaya , tingkat ekonomi , dan semua rangsang dari lingkungan . Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang . Tapi pada remaja yang terlibat perkelahian , mereka kurang mampu untuk mengatasi , apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya . Mereka biasanya mudah putus asa , cepat melarikan diri dari masalah , menyalahkan orang / pihak lain pada setiap masalahnya , dan memilih menggunakan cara tersingkat untuk memecahkan masalah .

Faktor keluarga Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga menjadi hal yang wajar apabila mereka melakukan kekerasan yang sama. : 

Faktor keluarg a Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan ( entah antar orang tua atau pada anaknya ) jelas berdampak pada anak . Anak , ketika meningkat remaja , belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya , sehingga menjadi hal yang wajar apabila mereka melakukan kekerasan yang sama .

Faktor Sekolah Bagi Durkheim, sekolah mempunyai fungsi yang sangat penting dan sangat khusus untuk menciptakan makhluk baru, yang dibentuk sesuai dengan kebutuhan masyarakat untuk itu dibutuhkan sekali keselarasan antara harapan masyarakat dengan system pengajaran. Disamping itu semua hal yang paling penting dalam proses mengajar disekolah adalah menumbuhkan motivasi diri (self motivation) untuk belajar. Dengan adanya keinginan dirisendiri untuk belajar bagi para siswa maka mereka akan bisa lebih focus terhadap pelajaran yang diberikan oleh pengajar. : 

Faktor Sekolah Bagi Durkheim, sekolah mempunyai fungsi yang sangat penting dan sangat khusus untuk menciptakan makhluk baru , yang dibentuk sesuai dengan kebutuhan masyarakat u ntuk itu dibutuhkan sekali keselarasan antara harapan masyarakat dengan system pengajaran . D isamping itu semua hal yang paling penting dalam proses mengajar disekolah adalah menumbuhkan motivasi diri (self motivation) untuk belajar . Dengan ada nya keinginan diri sendiri untuk belajar bagi para siswa maka mereka akan bisa lebih focus terhadap pelajaran yang diberikan oleh pengajar .

Faktor lingkungan. Lingkungan diantara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-sekian kan pelajar. Juga lingkungan kota (negara) yang penuh kekerasan. Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi. Lingkungan yang tidak menerima eksistensi para remaja juga menjadi salah satu faktor pemicu seorang pelajar atau remaja melakukan perbuatan-perbuatan anarki. Padahal pada usia remaja tersebut remaja dalam taraf pencarian jati diri, dan dibutuhkan sekali dukungan dan partisipasi warga masyarakat dilingkungan sekitar mereka berada. Hal itu bisa dilakukan dengan berbagai cara diantaranya mengadakan wadah organisasi pemuda, memberikan apresiasi terhadap remaja yang berprestasi, melibatkan remaja dalam berbagai kegiatan kemsyarakatan sampai dengan memberikan tanggungjawab yang lebih untuk menjadi panitia sebuah kegiatan yang diadakan oleh masyarakat. Hal-hal tersebut mungkin bisa diharapkan untuk meminimalisasi remaja untuk mencari kegiatan-kegiatan negative diluar lingkungan mereka. : 

Faktor lingkungan . Lingkungan diantara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami , juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian . Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh , dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk ( misalnya narkoba ). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-sekian kan pelajar . Juga lingkungan kota ( negara ) yang penuh kekerasan . Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya , dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi . Lingkungan yang tidak menerima eksistensi para remaja juga menjadi s a lah satu faktor pemicu seorang pelajar atau remaj a melakukan perbuatan - perbuatan anarki . Padahal pada usia remaja tersebut remaja dalam taraf pencarian jati diri , dan dibutuhkan sekali dukungan dan partisipasi warga masyarakat dilingkungan sekitar mereka berada . Hal itu bisa dilakukan dengan berbagai cara diantaranya mengadakan wadah organisasi pemuda , memberika n apresiasi terhadap remaja yang berprestasi , melibatkan remaja dalam berbagai kegiatan kemsyarakatan sampai dengan memberikan tanggungjawab yang lebih untuk menjadi panitia sebuah kegiatan yang diadakan oleh masyarakat . Hal- hal tersebut mungkin bisa diharapkan untuk meminimalisasi remaja untuk mencari kegiatan-kegiatan negative diluar l ingkungan mereka.

Kesimpulan: Apabila menilik dari beberapa faktor perkelahian pelajar yang ditinjau dari sisi psikologis terdapat 3 faktor lingkungan selain faktor internal yang menyebabkan seorang pelajar melakukan tindakan tawuran. Itu menunjukkan peran penting lingkungan dalam andil menciptakan sebuah tawuran pelajar. Lingkungan-lingkungan mereka antara lain keluarga sebagai lingkungan dasar dari seorang remaja. Sekolah sebagai lingkungan tempat mencari ilmu dan membangun kreativitas mereka. Dan masyarakat sebagai lingkungan pengapresiasikan apa yang telah mereka pelajari dalam lingkungan keluarga dan sekolah. : 

Kesimpulan : Apabila menilik dari beberapa faktor perkelahian pelajar yang ditinjau dari sisi psikologis terdapat 3 faktor lingkungan selain faktor internal yang menyebabkan seorang pelajar melakukan tindakan tawuran . Itu menunjukkan peran penting lingkungan dalam andil menciptakan sebuah tawuran pelajar . Lingkungan-lingkungan mereka antara lain keluarga sebagai lingkungan dasar dari seorang remaja . Sekolah sebagai lingkungan tempat mencari ilmu dan membangun kreativitas mereka . Dan masyarakat sebagai lingkungan pengapresiasikan apa yang telah mereka pelajari dalam lingkungan keluarga dan sekolah .

3. Di tinjau Dari Aspek Biologi Di tinjau dari aspek ini menurut Paul Macle an seorang ahli neorologi mengenai tawuran pelajar terjadi karena adanya proses alamiah yang di hadapi oleh otak manusia. Paul Maclean menyebutkan otak manusia terdiri dari tiga bagian yang dinamakan triune brain. Dan masing-masing otak mempunyai fungsi masing-masing. Otak paling rendah dinamakan reptile brain dan seing disebut juga primitf brain yang berfungsi mengatur fisik kita agar tetap hidup, mengelola gerak reflex, mengendalikan gerak motorik, memantau fungsi tubuh, dan memproses informasi yang ditangkap oleh panca indra. Dan pada saat menghadapi ancaman atau keadaan berbahaya cenderung untuk memberikan reaksi melawan atau lari. Ketika ada suatu kejadian tawuran, ancaman akan datang walaupun sebenarnya tidak keinginan untuk melakukan sebuah pekelahian. Dikarenakan reaksi dari primitif otak yang mengambil ancaman dan sekaligus membalasnya dengan sebuah perlawanan, maka akan timbulah sebuah perlawanan yang berujung kepada perkelahian. Itulah sekilas proses alamiah perkelahian pelajar yang mendasari tawuran terjadi apabila dipandang dari aspek biologi. : 

3. Di tinjau Dari Aspek Biologi Di tinjau dari aspek ini menurut Paul Macle an seorang ahli neorologi mengenai tawuran pelajar terjadi karena adanya proses alamiah yang di hadapi oleh otak m anusia . Paul Maclean menyebutkan otak manusia terdiri dari tiga bagian yang dinamakan triune brain. Dan masing-masing otak mempunyai fungsi masing-masing . Otak paling rendah dinamakan reptile brain dan seing disebut juga primitf brain yang berfungsi mengatur fisik kita agar tetap hidup , mengelola gerak reflex, mengendalikan gerak motorik , memantau fungsi tubuh , dan memproses informasi yang ditangkap oleh panca indra . Dan pada saat menghadapi ancaman atau keadaan berbahaya cenderung untuk memberikan reaksi melawan atau lari . Ketika ada suatu kejadian t a wuran , ancaman akan datang walaupun sebenarnya tidak keinginan untuk melakukan sebuah pekelahian . Dikarenakan reaksi dari primitif otak yang mengambil ancaman dan sekaligus membalasnya dengan sebuah perlawanan , maka akan timbulah sebuah perlawanan yang berujung kepada perkelahian . Itulah sekilas proses alamiah perkelahian pelajar yang mendasari tawuran terjadi apabila dipandang dari aspek biologi .

4. Aspek - aspek yang menimbulkan tawuran pelajar

1. Aspek dendam Tidak sedikit penyebab tawuran di karena akan denda mentah itu karena pemalakan yang dilakukan pelajar sekolah atau dendam karena tidak bisa bersekolah disekolah yang diinginkan. Sehingga timbul keinginan untuk merusak sekolah yang dimaksud. Aspek dendam ini menimbulkan proyeksi tawuran-tawuran berikutnya bahkan mungkin hanya dengan diawali dengan hanya saling pandang. Karena sebenarnya sudah ada kebencian yang mendasari hati mereka. : 

1. Aspek dendam Tidak sedikit penyebab tawuran di karena a kan denda mentah itu karena pemalakan yang dilakukan pelajar sekolah atau dendam karena tidak bisa bersekolah disekolah yang diinginkan . Sehingga timbul keinginan untuk merusak sekolah yang dimaksud . Aspek dendam ini menimbulkan proyeksi tawuran-tawuran berikutnya bahkan mungkin hanya dengan diawali dengan hanya saling pandang . Karena sebenarnya sudah ada kebencian yang mendasari hati mereka .

2. Aspek selain dendam 1) Perayaan hasil U N (Ujian Nasional) Ada kebiasaan perayaan hasil ujian nasional bagi pelajar. Yaitu dengan melakukan pawai keliling kota, meneriakkan yel-yel dan sebagainya. Pada saat bersama ansatu rombingan bertemu dengan rombongan sekolah lain. Dan pertemuan itu menimbulkan saling ejek sehingga emosi meluap dan selanjutnya terjadilah sebuah tawuran. 2) Perayaan hari libur Seringnya pelajar memaknai hari libur sebagai hari tanpa aktifitas atau sering hari bebas. Untuk sementara waktu mereka akan berhenti melakukan aktivitas belajar. Sehingga mereka beranggapan akan melakukan tawuran dan setelah itu mereka bisa sembunyi dirumah tanpa takut keluar rumah. Karena aktifitas mereka hanya ada dirumah. : 

2. Aspek selain dendam 1) Perayaan hasil U N ( Ujian Nasional ) Ada kebiasaan perayaan hasil ujian nasional bagi pelajar . Yaitu dengan melakukan pawai keliling kota , meneriakkan yel-yel dan sebagainya . Pada saat bersama ansatu rombingan bertemu dengan rombongan sekolah lain. Dan pertemuan itu menimbulkan saling ejek sehingga emosi meluap dan selanjutnya terjadilah sebuah tawuran . 2) Perayaan hari libur Seringnya pelajar memaknai hari libur sebagai hari tanpa aktifitas atau sering hari bebas . Untuk sementara waktu mereka akan berhenti melakukan aktivitas belajar . Sehingga mereka beranggapan akan melakukan tawuran dan setelah itu mereka bisa sembunyi dirumah tanpa takut keluar rumah . Karena aktifitas mereka hanya ada dirumah .

PowerPoint Presentation: 

5. Dampak perkelahian pelajar

1. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas. 2. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. 3. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. 4. Terakhir, mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka, dan karena nya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannyatercapai. Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia. 5. Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja Banyak solusi yang ditawarkan oleh para ahli hingga para tokoh masyarakat untuk menanggulangi kenakalan remaja yang berupa tawuran pelajar.: 

1. Pertama , pelajar ( dan keluarganya ) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas . 2. Kedua , rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya , serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan . 3. Ketiga , terganggunya proses belajar di sekolah . 4. Terakhir , mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik , adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi , perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka , dan karena nya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannyatercapai . Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia. 5. Hal- hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja Banyak solusi yang ditawarkan oleh para ahli hingga para tokoh masyarakat untuk menanggulangi kenakalan remaja yang berupa tawuran pelajar .

Dibawah ini adalah beberapa hal yang dapat digunakan sebagai salah satu cara meminimalisasi tawuran pelajar; 1. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini. 2. Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama. 3. Kemauan orang tua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja. 4. Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orang tua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul. 5. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan. : 

Dibawah ini adalah beberapa hal yang dapat digunakan sebagai salah satu cara meminimalisasi tawuran pelajar ; 1. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan . Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini . 2. Adanya motivasi dari keluarga , guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama . 3. Kemauan orang tua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis , komunikatif , dan nyaman bagi remaja . 4. Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orang tua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul . 5. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan .

Cara lain yang ditawarkan oleh “Kartini Kartono” memberikan beberapa cara untuk meminimalisasi tawuran pelajar yang terurai sebagai berikut; 1. Banyak mawas diri, melihat kelemahan dan kekurangan sendiri dan melakukan koreksi terhadap kekeliruan yang sifatnya tidak mendidik dan tidak menuntun 2. Memberikan kesempatan kepada remaja untuk beremansipasi dengan cara yang baik dan sehat 3. Memberikan bentuk kegiatan dan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan remaja zaman sekarang serta kaitannya dengan perkembangan bakat dan potensi remaja : 

Cara lain yang ditawarkan oleh “ Kartini Kartono ” memberikan beberapa cara untuk meminimalisasi tawuran pelajar yang terurai sebagai berikut ; 1. Banyak mawas diri , melihat kelemahan dan kekurangan sendiri dan melakukan koreksi terhadap kekeliruan yang sifatnya tidak mendidik dan tidak menuntun 2. Memberikan kesempatan kepada remaja untuk beremansipasi dengan cara yang baik dan sehat 3. Memberikan bentuk kegiatan dan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan remaja zaman sekarang serta kaitannya dengan perkembangan bakat dan potensi remaja

Kesimpulan dan Saran 1. Kesimpulan Bisa dikatakan bahwa kenakalan remaja seperti halnya tawuran pelajar tidak bisa dikatakan bahwa semua aspek pendorong berasal dari internal mereka saja. Namun faktor lingkungan dimana mereka berada juga mempunyai andil besar dalam memicu seorang pelajar mencari pelampiasan-pelampiasan negatif. Seperti faktor keluarga yang dipenuhi oleh kekerasan orang tua, faktor sekolah yang kurang memperhatikan potensi anak-anak didiknya. Sampai faktor masyarakat yang senantiasa menyepelekan keberadaan mereka. Untuk menindak lanjuti itu semua sebaiknya masyarakat yang meliputi keluarga, sekolah, dan masyarakat sadar betapa pentingnya mereka menjaga kestabilan remaja dengan memberi ruang yang cukup kepada mereka untuk berekspresi. Sehingga mereka mendapatkan kenyamanan yang cukup dimana mereka berada. Pengakuan masyarakat yang selama ini mereka idamkan, sambutan keluarga yang mereka impikan dan sekolah yang nyaman untuk meningkatkan potensi mereka. Dengan hal-hal tersebut diharapkan masyarakat bisa meminimalisasi potensi-potensi yang ada guna menimbulkan remaja yang kreatif, aktif, produktif dan berpotensi menjadi generasi penerus yang baik. : 

Kesimpulan dan Saran 1. Kesimpulan Bisa dikatakan bahwa kenakalan remaja seperti halnya tawuran pelajar tidak bisa dikatakan bahwa semua aspek pendorong berasal dari internal mereka saja . Namun faktor lingkungan dimana mereka berada juga mempunyai andil besar dalam memicu seorang pelajar mencari pelampiasan-pelampiasan negatif . Seperti faktor keluarga yang dipenuhi oleh kekerasan orang tua , faktor sekolah yang kurang memperhatikan potensi anak-anak didiknya . Sampai faktor masyarakat yang senantiasa menyepelekan keberadaan mereka . Untuk menindak lanjuti itu semua sebaiknya masyarakat yang meliputi keluarga , sekolah , dan masyarakat sadar betapa pentingnya mereka menjaga kestabilan remaja dengan memberi ruang yang cukup kepada mereka untuk berekspresi . Sehingga mereka mendapatkan kenyamanan yang cukup dimana mereka berada . Pengakuan masyarakat yang selama ini mereka idamkan , sambutan keluarga yang mereka impikan dan sekolah yang nyaman untuk meningkatkan potensi mereka . Dengan hal-hal tersebut diharapkan masyarakat bisa meminimalisasi potensi-potensi yang ada guna menimbulkan remaja yang kreatif , aktif , produktif dan berpotensi menjadi generasi penerus yang baik .

2. Saran Menyikapi berbagai fenomena kenakalan remaja khususnya tawuran pelajar yang telah disampaikan diatas penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut; 1. Sedari sekarang masyarakat harus sadarakan pentingnya peran mereka dalam membentuk lingkungan yang kondusif. 2. Keluarga sebagai elemen dasar sebuah bangunan pendidikan agar lebih aktif dalam memperhatikan anak-anaknya, pentingnya menciptakan demokratisasi dalam keluarga. 3. Sekolah sebagai suatu lembaga pendidik seharusnya memperhatikan potensi-potensi dasar peserta didik untuk lebih meningkatkan daya kreativitas mereka. 4. Adanya system penanganan yang lebih tepat apabila diketemukan tawuran pelajar.: 

2. Saran Menyikapi berbagai fenomena kenakalan remaja khususnya tawuran pelajar yang telah disampaikan diatas penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut ; 1. Sedari sekarang masyarakat harus sadarakan pentingnya peran mereka dalam membentuk lingkungan yang kondusif . 2. Keluarga sebagai elemen dasar sebuah bangunan pendidikan agar lebih aktif dalam memperhatikan anak-anaknya , pentingnya menciptakan demokratisasi dalam keluarga . 3. Sekolah sebagai suatu lembaga pendidik seharusnya memperhatikan potensi-potensi dasar peserta didik untuk lebih meningkatkan daya kreativitas mereka . 4. Adanya system penanganan yang lebih tepat apabila diketemukan tawuran pelajar .

TERIMAKASIH: 

TERIMAKASIH