Kuliah Bayi baru lahir dengan ibu bermasalah

Views:
 
Category: Entertainment
     
 

Presentation Description

No description available.

Comments

Presentation Transcript

Bayi baru lahir dengan ibu bermasalah:

Bayi baru lahir dengan ibu bermasalah Sebagian besar Bayi Baru Lahir yang terlahir dari Ibu yang bermasalah dalam arti menderita suatu penyakit , tidak menunjukkan gejala sakit pada saat dilahirkan atau beberapa waktu setelah lahir . Bukan berarti bayi baru lahir tersebut aman dari gangguan akibat dari penyakit yang diderita ibu . Hal tersebut dapat menimbulkan akibat yang merugikan bagi Bayi Baru Lahir (BBL), dan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas bayi . Ibu bermasalah disini diartikan sebagai Ibu yang menderita sakit,sebelum , selama hamil , atau pada saat menghadapi proses persalinan .

MDG 2015 Milenium Development Goal 2015:

MDG 2015 Milenium Development Goal 2015 1.Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan 2.Pendidikan dasar bagi semua 3.Kesetaraan Gender 4.Menurunkan Angka kematian anak 5.Meningkatkan kesehatan Ibu 6.Memerangi HIV/AIDS 7.Memastikan keberlangsungan lingkungan hidup 8.Meningkatkan kerjasama global untuk mencapai pembangunan

State of the World’s Newborn Save The Children 2001, :

State of the World’s Newborn Save The Children 2001, Dari State of the World’s Newborn, terdapat Rumus : Dua per tiga yaitu , Lebih dari 7 juta bayi meninggal setiap tahun antara lahir hingga umur 12 bulan ., hampir : D ua pertiga bayi yang meninggal , terjadi pada bulan pertama,dari yang meninggal tersebut , D ua pertiga meninggal pada umur satu minggu , dan Dua pertiga diantaranya meninggal pada dua puluh empat jam pertama kehidupannya . Disini sangat jelas bahwa masalah kesehatan Neonatal tidak dapat dilepaskan dari masalah kesehatan perinatal dimana proses kehamilan , dan persalinan memegang faktor yang amat penting

Slide 4:

SDKI 2002; Angka kematian Balita : 46 per 1000 kelahiran hidup Angka kematian Bayi : 46 per 1000 kelahiran hidup  mayoritas angka kematian neonatus Target MDG 2015  turun 2/3 nya

Kenyataan yang ada ::

Kenyataan yang ada : Bayi yang berumur kurang dari tujuh hari , kelainan yang di derita lebih banyak terkait dengan kehamilan dan persalinan , sedangkan bayi 7 hari – 2 bulan banyak terkait dengan pola penyakit anak . Karena kebanyakan bayi baru lahir yang sakit jarang dibawa oleh orang tua ke pusat pelayanan karena kultur masyarakat , maka kunjungan rumah bagi tenaga kesehatan sangat diperlukan , dengan ASUH yaitu awal sehat untuk hidup sehat . Karena kelainan BBL sangat erat hubungannya dengan saat berada di dalam kandungan

Peny.ibu yang seringbayi:

Peny.ibu yang sering bayi Bayi Baru Lahir (BBL) dari ibu yang mengalami penyakit yang relatif sering , seperti 1.kecurigaan infeksi intra uterin , 2. Hepatitis B, 3.Tuberkulosis , 4Diabetes Mellitus, 5 Sifilis , 6.dan HIV yang tampaknya jumlah penderita semakin meningkat serta Ibu dengan 7.kecanduan Obat .

IBU DENGAN KECURIGAAN INFEKSI INTRA UTERIN :

IBU DENGAN KECURIGAAN INFEKSI INTRA UTERIN Tanda-tanda ibu yang diduga mengalami infeksi dalam kandungan yang dapat berakibat infeksi atau bakteriemi pada bayinya adalah bila : Ibu mengalami panas tubuh lebih atau sama dengan 38 0 C selama proses persalinan sampai 3 hari pasca persalinan , Cairan ketuban hijau keruh apalagi berbau busuk , Cairan ketuban pecah 18 sampai 24 jam sebelum bayi lahir , Atau pecah pada saat umur kehamilan baru menginjak 37 minggu . Pada keadaan tersebut , BBL sangat rawan terhadap terjadinya infeksi yang dapat mengancam jiwanya , karena BBL tersebut dapat menderita sepsis. Perubahan Neonatus ke arah kondisi yang buruk berlangsung sangat cepat . Apabila suatu sebab , keluarga meminta pulang sebelum waktunya , pengawasan yang perlu dilakukan oleh keluarga terhadap bayi adalah : apakah pernapasan bayi menjadi cepat , bayi lethargi hipotermi atau panas muntah setiap minum , kembung , merintih

BAYI DARI IBU DENGAN KECURIGAAN INFEKSI INTRA UTERIN :

BAYI DARI IBU DENGAN KECURIGAAN INFEKSI INTRA UTERIN Bayi = 35 minggu / 2000 gram Bayi < 35 minggu / < 2000 gram Infeksi Ibu , KPD Berikan antibiotika Kultur (-)→ Stop antibiotika Kultur (+)→ teruskan antibiotika Kultur tidak dilakukan , Infeksi bayi ?→ antibiotika stop 5 hari , amati 24 jam

KPD .Infeksi Ibu ? :

KPD . Infeksi Ibu ? Tidak perlu antibiotika Amati tiap 4 jam sampai 48 jam : Bila infeksi bayi (-)→ pulang Bia infeksi bayi (+)→ antibiotika Bila kultur tidak dilakukan , bayi baik , pulang setelah umur 3 hari

IBU DENGAN HEPATITIS B:

IBU DENGAN HEPATITIS B Kriteria ibu mengidap atau menderita hepatitis B kronik : 1. Bila ibu mengidap HBsAg positif untuk jangka waktu lebih dari 6 bulan dan tetap positif selama masa kehamilan dan melahirkan . 2. Bila status HbsAg positif tidak disertai dengan peningkatan SGOT/PT maka , status ibu adalah pengidap hepatitis B. 3. Bila disertai dengan peningkatan SGOT/PT pada lebih dari kali pemeriksaan dengan interval pemeriksaan @ 2-3 bulan , maka status ibu adalah penderita hepatitis B kronik . 4. Status HbsAg positif tersebut dapat disertai dengan atau tanpa HBeAg positif .

Tindakan Bila Ibu Hepatitis B:

Tindakan Bila Ibu Hepatitis B Berikan dosis awal Vaksin Hepatitis B (VHB) 0,5 ml segera setelah lahir , seyogyanya dalam 12 jam sesudah lahir disusul dosis ke-2, dan ke-3 sesuai dengan jadwal imunisasi hepatitis. Bila tersedia pada saat yang sama beri Imunoglobulin Hepatitis B 200 IU IM (0,5 ml) disuntikkan pada paha yang lainnya , dalam waktu 24 jam sesudah lahir ( sebaiknya dalam waktu 12 jam setelah bayi lahir ). Mengingat mahalnya harga immunoglobulin hepatitis B, maka bila orang tua tidak mempunyai biaya , dilandaskan pada beberapa penelitian , pembelian HBIg tersebut tidak dipaksakan . Dengan catatan , imunisai aktif hepatitis B tetap diberikan secepatnya . Yakinkan ibu untuk tetap menyusui dengan ASI, apabila vaksin diatas sudah diberikan ( Rekomendasi CDC), tapi apabila ada luka pada puting susu dan ibu mengalami Hepatitis Akut , sebaiknya tidak diberikan ASI.

BAYI BARU LAHIR DENGAN IBU TUBERKULOSIS :

BAYI BARU LAHIR DENGAN IBU TUBERKULOSIS Bila menderita Tuberkulosis paru aktif dan mendapat pengobatan kurang dari 2 bulan sebelum melahirkan , atau didiagnosis TBC setelah melahirkan : Jangan diberi vaksin BCG saat setelah lahir ; Beri profilaksis Isoniazid (INH) 5 mg/kg sekali sehari secara oral; Pada umur 8 minggu lakukan evaluasi kembali , catat berat badan dan lakukan pemeriksaan tes Mantoux dan radiologi bila memungkinkan

bila ditemukan kecurigaan TBC aktif:

bila ditemukan kecurigaan TBC aktif mulai berikan pengobatan anti TBC lengkap ( sesuaikan dengan program pengobatan TBC pada bayi dan anak dan bila bayi baik dan dan hasil tes negatif , lanjutkan pencegahan dengan isoniazid selama waktu 6 bulan . Tunda pemberian vaksin BCG sampai 2 minggu setelah pengobatan selesai . Bila vaksin BCG sudah terlanjur diberikan , ulang pemberiannya 2 minggu setelah pengobatan INH selesai . Yakinkan ibu bahwa ASI tetap boleh diberikan . Lakukan tindak lanjut terhadap bayinya tiap 2 minggu untuk menilai kenaikan berat bayi . Obat yang diminum ibunya seperti INH, Rifampisin , Ethambutol , aman untuk Breast Feeding.

IBU DENGAN DIABETES MELLITUS:

IBU DENGAN DIABETES MELLITUS Bayi lahir dari ibu dengan Diabetes Melitus , berisiko untuk terjadi hipoglikemia pada 3 hari pertama setelah lahir , walaupun bayi sudah dapat minum dengan baik . Ibu dengan DM mempunyai resiko kematian bayi lima kali dibanding ibu tidak dengan DM. Tanda bayi hipoglikemia adalah : Distres nafas , malas minum , jitteriness, mudah terangsang , sampai kejang . KADAR GLUKOSE DARAH RENDAH (HIPOGLIKEMIA) ,

PENGELOLAAN HIPOGLIKEMIA :

PENGELOLAAN HIPOGLIKEMIA a. Glukose darah kurang 25 mg/ dL (1,1 mmol /L) atau terdapat tanda hipoglikemi Pasang jalur IV jika belum terpasang . Berikan glukose 10% 2 mL /kg secara IV bolus pelan dalam lima menit . Infus glukose 10% sesuai kebutuhan rumatan . Periksa kadar glukose darah satu jam setelah bolus glukose dan kemudian tiap tiga jam : Jika kadar glukose darah masih kurang 25 mg/ dL (1,1 mmol /L), ulangi

Jika kadar glukose darah 25-45 mg/dL (1,1-2,6 mmol/L), :

Jika kadar glukose darah 25-45 mg/ dL (1,1-2,6 mmol /L), lanjutkan infus dan ulangi pemeriksaan kadar glukose setiap tiga jam sampai kadar glukose 45 mg/ dL (2,6 mmol /L) atau lebih ; Bila kadar glukose darah 45 mg/ dL (2,6 mmol /L) atau lebih dalam dua kali pemeriksaan berturut-turut , ikuti petunjuk tentang frekuensi pemeriksaan kadar glukose darah setelah kadar glukose darah kembali normal. Anjurkan ibu menyusui . Bila bayi tidak dapat menyusu , berikan ASI peras dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum . Jika jalur IV tidak dapat dipasang dengan cepat , berikan larutan glukose melalui pipa lambungdengan dosis yang sama

Glukose darah 25 mg/dL (1,1 mmol/L)-45 mg/dL (2,6 mmol/L) tanpa tanda Hipoglikemia :

Glukose darah 25 mg/ dL (1,1 mmol /L)-45 mg/ dL (2,6 mmol /L) tanpa tanda Hipoglikemia Anjurkan ibu menyusui . Bila bayi tidak dapat menyusu , berikan ASI peras dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum . Pantau tanda hipoglikemia dan bila dijumpai tanda tersebut , tangani seperti tersebut di atas . Periksa kadar glukose darah dalam tiga jam atau sebelum pemberian minum berikutnya : Jika kadar glukose darah kurang 25 mg/ dL (1,1 mmol /L), atau terdapat tanda hipoglikemia , tangani seperti tersebut di atas ; Jika kadar glukose darah masih antara 25-45 mg/ dL (1,1-2,6 mmol /L), naikkan frekuensi pemberian minum ASI atau naikkan volume pemberian minum dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum ;

FREKUENSI PEMERIKSAAN GLUKOSE DARAH SETELAH KADAR GLUKOSE DARAH NORMAL :

FREKUENSI PEMERIKSAAN GLUKOSE DARAH SETELAH KADAR GLUKOSE DARAH NORMAL Jika bayi mendapatkan cairan IV, untuk alasan apapun , lanjutkan pemeriksaan kadar glukose darah setiap 12 jam selama bayi masih memerlukan infus . Jika kapan saja kadar glukose darah turun , tangani seperti tersebut di atas . Jika bayi sudah tidak lagi mendapat infus cairan IV, periksa kadar glukose darah setiap 12 jam sebanyak dua kali pemeriksaan : Jika kapan saja kadar glukose darah turun , tangani seperti tersebut di atas ; Jika kadar glukose darah tetap normal selama waktu tersebut , maka pengukuran dihentikan .

IBU DENGAN SIFILIS:

IBU DENGAN SIFILIS Bila hasil tes pada ibu positif dan sudah diobati dengan Penisillin 2,4 juta unit dimulai sejak 30 hari sebelum melahirkan , bayi tidak perlu diobati . Bila ibu tidak diobati atau diobati secara tidak adekuat atau tidak diketahui status pengobatannya , maka : - Beri bayi Benzathine Benzylpenicillin IM dosis tunggal ( lihat Dosis Pemberian Antibiotika ) ; - Beri Ibu dan Bapaknya Benzathine penicillin 2,4 juta unit I.M dibagi dalam dua suntikan pada tempat yang berbeda ; - Rujuk Ibu dan Bapaknya ke rumah sakit yang melayani penyakit menular seksual untuk tindak lanjut .

IBU DENGAN HIV:

IBU DENGAN HIV Bayi yang dilahirkan ibu dengan HIV positif maka : - Hormati kerahasiaan ibu dan keluarganya , dan lakukan konseling pada keluarga ; - Rawat bayi seperti bayi yang lain, dan perhatian khususnya pada pencegahan infeksi ; - Bayi tetap diberi imunisasi rutin , kecuali terdapat tanda klinis defisiensi imun yang berat , jangan diberi vaksin hidup (BCG, OPV, Campak , MMR); - Pada waktu pulang , periksa DL, hitung Lymphosit T, serologi anti HIV, PCR DNA/RNA HIV. Beri dukungan mental pada orang tuanya Anjurkan suaminya memakai kondom , untuk pencegahan penularan infeksi .

Slide 21:

Kelola bayi dan ibu sesuai dengan protokol dan kebijakan yang ada , tujuannya untuk Profilaksis - Bila ibu sudah mendapat Zidovudine ( AZT ) 4 minggu sebelum melahirkan,maka setelah lahir bayi diberi AZT 2 mg/kg berat badan per oral tiap 6 jam selama 6 minggu , dimulai sejak bayi umur 12 jam. - Bila ibu sudah mendapat Nevirapine dosis tunggal selama proses persalinan dan bayi masih berumur kurang dari 3 hari , segera beri bayi Nevirapine dalam suspensi 2 mg/kg berat badan secara oral pada umur 12 jam.

IBU DENGAN KECANDUAN OBAT:

IBU DENGAN KECANDUAN OBAT Obat-obatan yang kita bahas hanya terbatas obat Narcotic misalnya Heroin dan Methadone, atau obat stimulant (non narcotic) misalnya Cocain karena disamping macam obat yang sangat banyak tapi tempat terbatas , juga karena obat tersebut sering digunakan oleh Ibu-ibu pengguna .

Slide 23:

Kita harus waspada terhadap ibu-ibu pengguna obat apabila kita temui Ibu yang habis melahirkan tanpa prenatal care yang disertai tanda-tanda pengguna diantaranya adalah ada bekas jaringan-jaringan parut disertai hepatitis, yang sangat tergesa-gesa ingin meninggalkan Rumah Sakit , atau meminum obat dengan dosis besar dan berulang selama di Rumah Sakit . Bayi Baru Lahir dapat mengalami Withdrawel karena obat-obat tersebut dapat melalui plasenta .

Slide 24:

Withdrawel tergantung beberapa fakror , yaitu Dosis Obat yang dikonsumsi , Durasi kecanduan , dan dosis terakhir yang dikonsumsi . • Bila dosis 6mg/ hari , Bayi mengalami gejala ringan , atau tanpa gejala . • Bila kecanduan telah lebih dari satu tahun , withdrawel pada bayi dapat terjadi lebih dari 70%. • Bila obat dikonsumsi terutama dalam 24 jam sebelum melahirkan,maka kejadian withdrawel akan tinggi . Diagnosis Banding adalah Hipoglikemia dan Hipocalcemia . Ibu pengguna Heroin atau Methadone , dapat mempunyai bayi dengan Abstinence Syndrome dengan ciri khas iritable , jitteriness, kejang , hipertoni , bersin-bersin , takikardi , diare , dan gangguan minum . Gangguan ini dapat lama terutama pada Ibu pengguna Methadone. Sebaiknya dirujuk

authorStream Live Help