TEORI ORGANISASI

Views:
 
Category: Entertainment
     
 

Presentation Description

No description available.

Comments

By: zackbgr (50 month(s) ago)

good banget

Presentation Transcript

Slide 1: 

BIROKRASI & PELAYANAN PUBLIK Oleh Wasis Budiarto

ARTI BIROKRASI (1) : 

ARTI BIROKRASI (1) Kamus akademis Perancis (Suplement tahun 1798) mengartikan sebagai „kekuasaan, pengaruh dari para kepala dan staf biro pemerintahan“. Kamus bahasa Jerman edisi 1813, Mendefinisikan sbg wewenang atau kekuasaan dari berbagai departemen pemerintah dan cabang-cabangnya yang memperebutkan untuk diri mereka sendiri atas sesama warga negara“ . Kamus bahasa Itali tahun 1828, mengartikan sbg „kekuasaan pejabat di dalam administrasi pemerintahan“.

ARTI BIROKRASI (2) : 

ARTI BIROKRASI (2) Gorres dalam Europe and the Revolution (1821) melihat birokrasi sebagai institusi sipil yang analog dengan kedudukan tentara, dimana kehadiran birokrasi didasarkan pada prinsip-prinsip seperti disiplin, promosi, penghargaan kelompok, dan sentralisasi Sejak abad ke 19, di Inggris telah diakui kebutuhan akan birokrasi sebagai suatu bentuk pemerintahan yang digambarkan sebagai „penyelenggaraan kekuasaan negara oleh administrator yang profesional“ (Ramsay Muir,1910

Selanjutnya….. : 

Selanjutnya….. Konsep birokrasi sebagai suatu sistem pemerintahan muncul pada abad 19 melalui tulisan Mosca (yang muncul pertama kali tahun 1895 dan bab terakhir ditulis pada tahun 1933) dimana ia mengklasifikasikan sistem pemerintahan menjadi dua tipe yaitu feodal dan birokratis (Blau dan Meyer, 1987).

INTINYA …….. : 

INTINYA …….. Ada dua kelompok besar di dalam setiap negara yaitu kelompok (kelas) yg menjalankan kekuasaan pemerintahan disebut The rulling class dan kelompok di bawahnya yg selalu berada pada posisi diperintah yg disebut The ruled class. Pada tipe pemerintahan feodal, The rulling class menjalankan pengaturan fungsi-fungsi ekonomi, perundang-undangan, administrasi dan militer secara langsung, personal dan sederhana terhadap The ruled class. Pada tipe birokratis, fungsi-fungsi pemerintahan dipisahkan secara jelas menjadi bagian-bagian khusus dan membentuk suatu kelompok yg menerima tugas pengelolaan kekayaan nasional dan kepadanya diberikan gaji. Kelompok itulah yg disebut birokrasi.

SELANJUTNYA… : 

SELANJUTNYA… Max Weber, seorang sosiolog Jerman, di awal abad ke 19 menulis karya yang sangat berpengaruh di negara2 yang berbahasa Inggris dan di negara2 daratan Eropa. Karya itu dikenal dengan ’tipe ideal birokrasi’ Weber memaknai birokrasi sebagai suatu badan administratif tentang pejabat-pejabat yang diangkat, yg di dalamnya terdapat hubungan kolektif dimana pekerjaan dan wewenangnya sudah jelas diatur dalam suatu organisasi (Blau dan Meyer, 1987; Albrow, 1989; Thoha, 2003).

DEFINISI BIROKRASI : 

DEFINISI BIROKRASI Birokrasi pada dasarnya adalah suatu jenis organisasi yang dirancang untuk menangani tugas-tugas administratif dalam skala besar serta mengorganisasikan orang dalam jumlah besar yang tujuannya adalah meningkatkan efisiensi administrasi (Blau dan Meyer, 1987).

TIPE IDEAL BIROKRASI (1) : 

TIPE IDEAL BIROKRASI (1) 1. Individu pejabat secara personal bebas, akan tetapi dibatasi oleh jabatannya. Pejabat tidak bebas menggunakan jabatannya untuk keperluan dan kepentingan pribadinya termasuk keluarganya. 2. Jabatan-jabatan itu disusun dalam tingkatan hirarki yang jelas, yaitu unit yang lebih rendah berada di bawah pengawasan dan pembinaan unit yang lebih tinggi. 3. Tugas dan fungsi masing-masing jabatan dalam hirarki itu secara spesifik berbeda satu sama lainnya

TIPE IDEAL BIROKRASI (2) : 

TIPE IDEAL BIROKRASI (2) 4. Setiap pejabat mempunyai kontrak jabatan yang harus dijalankan. Uraian tugas (job description) masing-masing pejabat merupakan domain yang menjadi wewenang dan tanggungjawab yang harus dijalankan sesuai dengan kontrak. 5. Setiap pejabat diseleksi atas dasar kualifikasi profesionalitasnya, idealnya hal tersebut dilakukan melalui ujian yang kompetitif. 6. Setiap pejabat mempunyai gaji termasuk hak untuk menerima pensiun sesuai dengan tingkatan hirarki jabatan yang disandangnya.

TIPE IDEAL BIROKRASI (3) : 

TIPE IDEAL BIROKRASI (3) 7. Terdapat struktur pengembangan karir yang jelas dengan promosi berdasarkan senioritas dan merit sesuai dengan pertimbangan yang objektif 8. Setiap pejabat sama sekali tidak dibenarkan menjalankan jabatannya dan resources instansinya untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. 9. Setiap pejabat berada dibawah pengendalian dan pengawasan suatu sistem yang dijalankan secara disiplin dan seragam.

BIROKRASI menurut KARL MARX : 

BIROKRASI menurut KARL MARX Marx dengan pemikirannya mengenai pertentangan klas, berpendapat bahwa birokrasi menjadi instrument dari klas yang dominan untuk mencapai tujuannya dan mendominasi kepentingan klas-klas lainnya, sehingga tidak mungkin baginya untuk bersikap netral bebas dari kepentingan kelompok. Marx berpandangan, kepentingan umum itu sebenarnya tidak pernah ada yang ada kepentingan partikular yang saling mendominasi satu sama lain. Kepentingan partikular yang dominan itulah yang kemudian diusung oleh birokrasi pemerintah untuk mengatur seluruh masyarakat (klas-klas yang lemah). Marx akhirnya menyimpulkan bahwa birokrasi adalah negara atau pemerintah itu sendiri.

BIROKRASI menurut Hegel : 

BIROKRASI menurut Hegel Birokrasi berada pada posisi tengah antara masyarakat dan negara Birokrasi adalah institusi netral yang hanya menjalankan tugas-tugas demi kepentingan bersama dalam suatu negara tanpa terpengaruh oleh kepentingan klas yang sedang berkuasa

PANDANGAN YATE (1982) : 

PANDANGAN YATE (1982) ada dua model yang dapat digunakan untuk membuat bagaimana pemerintah bisa bekerja dan terstruktur dengan baik, yaitu model pluralist-democracy dan model administrative efficiency

Model pluralist-democracy, birokrasi pemerintah dituntut untuk berperan sbb : : 

Model pluralist-democracy, birokrasi pemerintah dituntut untuk berperan sbb : Menyediakan banyak pusat-pusat kekuasaan sebagai sarana keseimbangan dan sebagai kontrol bila terjadi konsentrasi kekuasaan. Memberikan fasilitas atau kemudahan kepada kelompok-kelompok kepentingan agar terwakili dengan menyediakan berbegai titik-titik akses. Mempunyai kemauan dan elemen yang kuat untuk melakukan desentralisasi Mampu menjadikan dirinya secara internal bisa bersaing Bersifat terbuka dan partisipatif Mampu menghasilkan proses bargaining yang luas.

Model administrative –efficiency , birokrasi pemerintah dituntut untuk berperan sbb: : 

Model administrative –efficiency , birokrasi pemerintah dituntut untuk berperan sbb: Mampu menghasilkan kebijakan publik yang rasional dan bebas nilai dengan cara-cara yang efisien. Mampu bekerja dengan profesional melalui pejabat-pejabat yang dipilih dan diangkat dengan sistem merit dan bekerja secara efektif dalam suatu hirarkhi yang memuat spesialisasi tugas dan tanggung jawab yang jelas. Mampu melakukan koordinasi yang menyeluruh dan energized dalam menyerap kepentingan publik sebagai sistem birokrasi publik yang kuat dan handal.

BIROKRASI & POLITIK : 

BIROKRASI & POLITIK Kewenangan birokrasi tidak dapat dilepaskan dari kekuasaan dan kompetensi politisi atau lembaga perwakilan rakyat (legislatif). Hal ini dikarenakan birokrasi sebagai motor eksekutif pada dasarnya adalah menjalankan amanat rakyat yang mekanismenya disampaikan melalui lembaga legislatif yang terdiri dari partai-partai politik Dalam negara demokrasi, peran partai politik sebagai penampung aspirasi rakyat menduduki posisi yang sangat strategis dalam mengontrol kinerja birokrasi. Setiap kebijakan yang diambil oleh eksekutif bersama-sama dengan legislatif dan kemudian dilaksanakan oleh birokrasi akan tetap berada dalam koridor kepentingan publik

DISKRESI PEJABAT BIROKRASI : 

DISKRESI PEJABAT BIROKRASI Dlm situasi dan jenis / tipe birokrasi apapun juga, birokrat cenderung menginginkan untuk dapat memiliki dan menerapkan diskresi -- minimal dalam wilayah domain administratif Kebutuhan akan adanya diskresi tersebut sesuai dengan tuntutan pelayanan publik serta kondisi lapangan yang seringkali tidak dapat dipastikan sebagaimana ketika pada saat sebuah kebijakan dirumuskan

Lanjutan…. : 

Lanjutan…. (Davis, 1969) seorang pejabat publik memiliki diskresi dimana batas efektif dari kekuasaan yang dimilikinya memberikan kesempatan atau kebebasan untuk membuat satu pilihan diantara berbagai alternatif tindakan baik untuk berbuat atau tidak berbuat). Jowell dalam tulisannya mendefinisikan diskresi sebagai : “ the room for decisional manoeuvre possessed by a decision maker” (1973: 179) Chandler dan Plano (1982: 108) menggambarkan diskresi sebagai “... the freedom administrators have to make choices which determine how a policy will be implemented ”.

FAKTA tentang DISKRESI : 

FAKTA tentang DISKRESI Diskresi birokrasi diperlukan guna meningkatkan kualitas pelayanan publik dan profesionalisme birokrasi Ukuran atau parameter penerapan diskresi birokrasi ini dapat berupa peraturan-peraturan dalam organisasi birokrasi itu sendiri, atau dapat pula bersumber dari luar yang didasarkan pada hukum, norma-norma atau kode etik yang berkaitan dengan profesionalisme Ada variabel lain yang juga mempengaruhi pelaksanaan diskresi birokrasi publik yaitu: faktor pekerjaan, beban kerja, konteks dimana keputusan harus diambil, kultur internal organisasi, peraturan dan batasan, serta lingkungan eksternal organisasi yang bersangkutan (Scott, 1997).

Lanjutan…. : 

Lanjutan…. Diskresi birokrasi tetap diperlukan sepanjang digunakan sesuai dengan kebutuhan dan tidak didasari oleh kepentingan pejabat yang menggunakannya melainkan lebih ditujukan untuk kepentingan publik Dalam pandangan demokrasi yang konvensional, diskresi harus dikontrol dengan ketat Penerapan diskresi perlu dibatasi oleh berbagai parameter baik dalam konteks internal maupun eksternal, sehingga penerapan diskresi terkait erat dengan issue-issue responsibilitas dan akuntabilitas birokrasi publik.

Bagaimana Pendapat Sdr tentang: : 

Bagaimana Pendapat Sdr tentang: Apakah pejabat birokrat di era otonomi benar-benar memiliki kewenangan diskresi yang besar (dapat mengambil keputusan atas inisiatif sendiri tanpa takut dibatasi oleh peraturan perundang-undangan) ? Apakah Parpol sudah dapat berperan sebagai sarana demokrasi yang baik? Apakah Parpol sudah menjalankan fungsi kontrol thd kinerja birokrasi pemerintahan secara efektif ?

Slide 22: 

PENGAMBILAN KEPUTUSAN

PENGAMBILAN KEPUTUSAN : 

PENGAMBILAN KEPUTUSAN Suatu proses yang dilakukan secara sadar untuk menentukan atau membuat pilihan-pilihan diantara beberapa alternatif dengan maksud untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan.

Slide 24: 

Pengambilan keputusan terjadi sebagai respon terhadap adanya masalah ataupun peluang Masalah (problem) adalah kesenjangan (gap) antara apa yang terjadi saat ini dengan apa yang sesungguhnya diharapkan Peluang (opportunity) adalah kesenjangan antara apa yang diharapkan saat ini dengan situasi yang lebih baik yang tidak direncanakan ataupun diharapkan sebelumnya.

Slide 25: 

Identifikasi Permasalahan dan Peluang Ada 2 faktor yang berpengaruh : Persepsi yang kurang sempurna Kemampuan diagnostik

Slide 26: 

Pemilihan Solusi Permasalahan: Masalah tujuan Seringkali tujuan kurang jelas atau bertentangan satu sama lain Masalah dalam pemrosesan informasi Kecenderungan memfilter dan menyeksi informasi (selective attention) Masalah dengan Maksimalisasi Cenderung memilih solusi yang cukup memuaskan ketimbang solusi yang terbaik

Bagaimana memilih solusi secara lebih efektif ? : 

Bagaimana memilih solusi secara lebih efektif ? Mengidentifikasi dan membobot faktor2 yang digunakan untuk mengevaluasi alternatif Menggunakan bantuan decision support system (DSS) Menggunakan intuisi sebagai refleksi dari tacit knowledge mereka

Mengevaluasi Hasil Keputusan : 

Mengevaluasi Hasil Keputusan Postdecisional justification: untuk mempertahankan citra pengambil keputusan dengan meniupkan informasi positifnya saja ketimbang kemungkinan negatifnya Escalation of commitment: kecenderungan meningkatkan pengalokasian sumber2 untuk menutupi kesalahan (menyelamatkan muka)

Faktor penyebab Escalation of Commitment: : 

Faktor penyebab Escalation of Commitment: Self justification (pembenaran diri) Gambler’s fallacy (spekulasi yang keliru) Perceptual blinders (ketidak tajaman persepsi) Closing costs (tingginya biaya pengakhiran)

Permasalahan dalam pengambilan keputusan kelompok : 

Permasalahan dalam pengambilan keputusan kelompok Time Constraints & production blocking Evaluation apprehension Conformity to peer pressure Groupthink Group polarization

Bagaimana mengurangi permasalahan tersebut? : 

Bagaimana mengurangi permasalahan tersebut? Tidak ada yang mendominasi proses Menjaga ukuran tim yang optimal Merumuskan norma tim secara eksplisit Membangun struktur tim yang efektif

Kondisi untuk Kreativitas : 

Kondisi untuk Kreativitas Lingkungan kerja yang kreatif : Otonom, bebas menetapkan tujuan, feed back, self-leadership, supportive leadership, cross-pollination Pelatihan kreativitas : Membuka wawasan baru, mendorong anggota untuk lebih memahami masalah dgn cara yang berbeda.

Struktur Kelompok untuk Kreativitas dan Pengambilan Keputusan : 

Struktur Kelompok untuk Kreativitas dan Pengambilan Keputusan Constructive controversy Situasi dimana anggota tim meperdebatkan opini mereka yang berbeda satu sama lain tentang suatu permasalahan dengan cara yang dapat meminimalisasi konflik sosioemosional. Brainstorming Proses pengambilan keputuan secara terstruktur dimana anggota kelompok berinteraksi secara langsung untuk menghasilkan alternatif solusi sebanyak mungkin. Electronic Brainstorming Proses pengambilan keputusan terstruktur dimana beberapa orang secara individual menyampaikan ide-ide melalui program computer dan disampaiakan kpd anggota lainnya tanpa nama.

Slide 34: 

Delphi Technique Proses pengambilan keputusan secara terstruktur untuk mengumpulkan pandangan dari para ahli secara kolektif tentang permasalahan tertentu untuk memutuskan, memprediksi dan mengidentifikasi pandangan yang bertentangan. Nominal Group Technique Proses pengambilan keputusan terstruktur dimana anggota kelompok secara independen menulis idenya masing-masing, menjelaskan kepada seluruh anggota dan secara independen pula merangking dan atau melakukan voting atas ide-ide yang ada tersebut.

Slide 35: 

EFEKTIVITAS ORGANISASI

EFEKTIVITAS ORGANISASI : 

EFEKTIVITAS ORGANISASI Adakah definisi formal ? Apa arti Efekfif bagi anda? Apa saja kriteri efektif itu menurut anda? Seberapa efektif organisasi anda menurut kriteria tersebut?

EFEKTIFITAS ORGANISASI : 

EFEKTIFITAS ORGANISASI EFEKTIFITAS INDIVIDU Sifat Psikologis. Motivasi Ciri-ciri fisik EFEKTIFITAS KELOMPOK Kepemimpinan Komunikasi Sosialisasi EFEKTIFITAS ORGANISASI Karakteristik Organisasi. Karakteristik Lingkungan Kebijakan & Praktek Manajemen

FAKTOR PENYUMBANG EFEKTIVITAS ORGANISASI : 

FAKTOR PENYUMBANG EFEKTIVITAS ORGANISASI

EFEKTIFITAS :PENDEKATAN TUJUAN : 

ASUMSI : Organisasi adalah kesatuan rasional yang didirikan untuk mencapai tujuan tertentu EFEKTIFITAS :PENDEKATAN TUJUAN Individual Kelompok Organisasi Pencapaian Tujuan

Pendekatan Pencapaian Tujuan(Goal attainment approach) : 

Pendekatan Pencapaian Tujuan(Goal attainment approach) Keefektifan organisasi dinilai sehubungan dgn pencapaian tujuan Kriteria pencapaian tujuan al: memaksimalkan laba, meningkatkan pelayanan, meningkatkan produktivitas, dll. Syarat: Organisasi hrs mempunyai tujuan akhir yg jelas, tujuan harus spesifik, harus ada kesepakatan ttg tujuan tersebut, kemajuan ke arah tujuan harus dapat diukur

Masalah yg dihadapi : 

Masalah yg dihadapi Seringkali tujuan organisasi kurang dpt dipahami dgn jelas oleh seluruh anggota Umumnya tujuan dirumuskan secara luas shg sulit untnuk diukur kemajuannya Tujuan jk.pendek seringkali berbeda dgn tujuan jk.panjang Fakta adanya tujuan majemuk

Pendekatan Sistem tentang Efektifitas Organisasi : 

Pendekatan Sistem tentang Efektifitas Organisasi Tujuan akhir tidak diabaikan, namun hanya dipandang sebagai satu elemen dalam kumpulan kriteria efektifitas yang lebih kompleks Kriteria efektifitas lebih menekankan pd kelangsungan hidup organisasi kemampuan memperoleh sumberdaya, kemampuan mempertahankan diri secara internal sbg organisasi sosial, kemampuan berintegrasi dengan lingkungan Masalah, kelemahan : kriteria pengukuran sulit dikuantifisir dibandingkan dengan pendekatan tujuan. Keunggulannya terletak pada kemampuannya untuk diaplikasikan apabila tujuan akhir sangat samar atau tidak dapat diukur.

Masalah yg dihadapi : 

Masalah yg dihadapi Mengukur variabel proses lebih sulit dibanding mengukur tujuan akhir Pengembangan alat ukur yang andal dan sah selalu menjadi perdebatan Nilai pentingnya pendekatan ini sering masih diragukan

Pendekatan Nilai-nilai Bersaing : 

Pendekatan Nilai-nilai Bersaing ASUMSI : Organisasi adalah kesatuan rasional yang didirikan untuk mencapai tujuan tertentu Ada elemen umum yang mendasari setiap kriteria Efektivitas Organisasi dan elemen tersebut dapat dikombinasikan sehingga menciptakan kumpulan dasar nilai-nilai bersaing bagi suatu organisasi Kriteria efektifitas yang dihasilkan : Fleksibilitas, Produktivitas, efisiensi, stabilitas, tenaga kerja, yang trampil & kohesif, ketersediaan informasi, ketepatan perencanaan, perolehan input yang memadai dan lain-lain.

Pendekatan Konstituensi Strategis : 

Pendekatan Konstituensi Strategis Organisasi dikatakan efektif bila dapat memenuhi tuntutan dari konstituensi strategis yang ada dalam organisasi Konstituensi strategis adalah mereka yang mendukung kelangsungan hidup suatu organisasi misalnya : pemilik, pegawai, pelanggan, supplier, kreditur, serikat pekerja, pejabat, dan lain-lain

Empat Pendekatan tentang Efektifitas Organisasi : 

Empat Pendekatan tentang Efektifitas Organisasi

Dimensi Waktu dalam mengukur Efektivitas Organisasi : 

Dimensi Waktu dalam mengukur Efektivitas Organisasi Produksi Efisiensi Adaptasi Survival Kepuasan Perkembangan Jangka Pendek Jangka Menengah Jangka Panjang

BAGAN KRITERIA KINERJA ORGANISASI : 

Short Term Long Term BAGAN KRITERIA KINERJA ORGANISASI Tactical Managers Strategic Managers Efficiency Satisfaction Adaptability or Efficiency Sumber : Carl R Anderson (1998:26), Management : Skills, Functions And Organization Performance, Second Edition, Allyn And Bacon, Inc, Needham Heights, MA Profitability Market position or Market share Productivity Personel development Employee attitudes and value Public responsibility Product leadership Balance short-range and long-range objectives

Slide 49: 

LEARNING ORGANIZATION (ORGANISASI PEMBELAJARAN)

MENGAPA PERLU LEARNING ? : 

MENGAPA PERLU LEARNING ? ORGANISASI SEPERTI MANUSIA SELALU MENGHADAPI PERUBAHAN TAHUN 1990 AN MUNCUL SUATU KEBUTUHAN DIKALANGAN ORGANISASI BAIK DI DALAM PEMERINTAHAN, BISNIS, NON PEMERINTAH UNTUK MENYESUAIKAN DGN PERUBAHAN LINGKUNGAN DALAM PROSES PENYESUAIAN ITULAH TIMBUL SUATU KEBUTUHAN UNTUK BELAJAR (LEARNING)

PENGERTIAN LEARNING : 

PENGERTIAN LEARNING LEARNING BISA BERUPA LEARNING TENTANG PRODUCT, atau PROCESS (Argyris dan Schon1966) PRODUCT -----pertanyannya ialah APA YANG HARUS DIPELAJARI ? PROCESS ----- pertanyaannya ialah BAGAIMANA KITA HARUS MEMPELAJARI ? KEDUA PERTANYAAN ITU MERUPAKAN LEARNING YANG DISEBUT ORGANIZATION LEARNING BERARTI ORGANISASI MEMBUTUHKAN INFORMASI

PENGERTIAN : lanjutan 1 : 

PENGERTIAN : lanjutan 1 SECARA UMUM DAPAT DISEBUTKAN BAHWA LEARNING DALAM ORGANISASI TERJADI KETIKA ORGANISASI TERSEBUT MEMERLUKAN INFORMASI SEHUBUNGAN DENGAN DENGAN ADANYA PERUBAHAN DALAM LINGKUNGANNYA INFORMASI (BARU) DIPERLUKAN KETIKA INFORMASI YANG ADA DI DALAM PERSEDIAN ORGANISASI TIDAK LAGI MENCUKUPI MENJAWAB PERUBAHAN TERSEBUT.

PENGERTIAN : lanjutan 2 : 

PENGERTIAN : lanjutan 2 LEARNING BISA TERJADI DALAM TATARAN INDIVUDAL DAN ORGANIZATIONAL KEDUA KOMPONEN SANGAT BERKAITAN, TIDAK BISA SENDIRI-SENDIRI. LEARNING DALAM ORGANISASI TIDAK BISA TERJADI MANAKALA INDIVIDU-INDIVIDU DLM ORGANISASI TIDAK MAU MELAKUKAN LEARNING LEARNING DI ANTARA KEDUANYA DI DORONG OLEH PERUBAHAN YANG TERJADI DISEKITAR LINGKUNGANNYA.

PENGERTIAN: lanjutan 3 : 

PENGERTIAN: lanjutan 3 MENURUT PETER SENGE (1990): LEARNING ORGANIZATIONS adalah “ Organisasi dimana di dalamnya orang-orang secara terus menerus melakukan pengembangan kemampuannya guna menghasilkan sesuatu yang benar-benar diinginkan, dimana pola pikir baru selalu dikembangkan, aspirasi kolektif dirancang bebas, dan selalu belajar bagaimana belajar besama”

DISIPLIN LEARNING ORGANIZATIONS (PETER SENGE) : 

DISIPLIN LEARNING ORGANIZATIONS (PETER SENGE) ADA LIMA HAL YANG HARUS DIKETAHUI DALAM DISIPLIN LEARNING ORGANIZATION , yaitu : (1) SYSTEM TINKING (2) PERSONAL MASTERY (3) MENTAL MODELS (4) BUILDING SHARED VISION (5) TEAM LEARNING

Slide 56: 

Organizational Strategies Structure Size Technology culture Resources environment Organization Performance Leadership Organizational Vision

Paul Lawrence & Jay Lorsch : 

Paul Lawrence & Jay Lorsch Organisasi yang lebih berhasil adalah organisasi yang mampu menyesuaikan diri dgn perubahan lingkungan Yang perlu diperhatikan dari Lingkungan eksternal : tingkat perubahan dalam lingkungan dari waktu ke waktu, kejelasan informasi yang dipegang manajemen, waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan umpan balik dari lingkungan thd aktivitas yang dilakukan organisasi. Lingkungan internal : dimensi diferensiasi dan integrasi

Slide 58: 

58 KITA LANJUT PADA BAB BERIKUTNYA

Slide 59: 

Selesai………. Terima Kasih Atas Perhatiannya

Slide 60: 

Wassalaamu'alaikum Wr.Wb Sukses untuk kita semua