DISTOSIA AKIBAT GANGGUAN power

Views:
 
Category: Education
     
 

Presentation Description

No description available.

Comments

By: kiky14 (78 month(s) ago)

dok, sy rizky mahasiswa kedokteran semester 4. Sy ingin meminta ijin utk mendownload presentasi power point mengenai dystocia ini. Jika dokter berkenan, mohon dikirimkan ke email sy. Terima kasih,

By: irarahayu (80 month(s) ago)

dr Bambang perkenalkan saya ira, saya mau meminta izin untuk mendownload presentasi/powerpoint dokter tentang kelainan/distosia akibat gangguan power, passage dan passanger. atau mungkin dokter bersedia mengirimkan ke email saya. terimakasih sebelum dan sesudahnya dok.

By: chibby (83 month(s) ago)

bisa d copy ga file ny

By: putra_mpds (84 month(s) ago)

dok, bs dikirim ke email saya dok... terima kasih sblm nya..... mail_fansclub@yahoo.com

By: intanputri (90 month(s) ago)

wow interesting matery

Presentation Transcript

ILUSTRASI KASUS : 

ILUSTRASI KASUS Seorang primigravida usia 25 tahun datang ke kamar bersalin RSI dikirim oleh RB Tritunggal dengan diagnosa PARTUS TAK MAJU. Keadaan umum pasien baik, nampak lelah. Fundus uteri 4 jbpx. His [+] . Presentasi kepala. DJJ + 11 – 12 – 11 Kehamilan tunggal, aterm, TBJ 2900 gram Dilatasi 2 cm , ketuban [+] , teraba kepala station 0 Keadaan jalan lahir normal, UPD / UPL normal

PERMASALAHAN : 

PERMASALAHAN Apa yang dimaksud dengan partus tak maju ? Apakah yang mutlak harus saudara ketahui lebih lanjut pada kasus ini untuk menentukan apakah memang terjadi distosia? HIS + , cukupkah informasi ini bagi saudara dalam kaitan untuk menegakkan diagnosa masuk? Apa diagnosa masuk atau “working diagnose” pada kasus ini ?

DISTOSIA AKIBAT GANGGUAN pada TENAGA PERSALINAN : 

DISTOSIA AKIBAT GANGGUAN pada TENAGA PERSALINAN dr. Bambang Widjanarko SpOG Bag. Ilmu Kebidanan & Peny.Kandungan Fak.Kedokteran & Kesehatan UMJ Jakarta LECTURE HANDOUT

OBJEKTIF PEMBAHASAN : 

OBJEKTIF PEMBAHASAN Setelah pembahasan, mahasiswa diharapkan untuk dapat memahami dan menjelaskan tentang: PENYEBAB DISTOSIA JENIS DISTOSIA MEKANISME DISTOSIA DIAGNOSA DISTOSIA JENIS DISFUNGSI UTERUS PARTUS PRESIPITATUS

Slide 5: 

Tahun 2002, angka kejadian tindakan Sectio Caesar di USA ± 26% . American College of Obstetricians and Gynecologist (2003) : sekitar 60% persalinan SC dilakukan a/i distosia. Distosia atau persalinan sulit ditandai dengan proses persalinan yang berjalan lambat. Gangguan persalinan umumnya disebabkan oleh adanya ketidaksesuaian ukuran antara bagian terendah janin dengan kapasitas jalan lahir.

Slide 6: 

Roy (2003) : tingginya diagnosa distosia merupakan akibat dari perkembangan perubahan lingkungan yang berlangsung lebih cepat dari pada perkembangan evolusi manusia itu sendiri. Joseph dkk (2003) : kenaikan angka kejadian SC berhubungan dengan perubahan usia maternal, paritas, berat badan sebelum hamil dan pertambahan berat badan selama kehamilan.

Slide 7: 

Nuthalapaty dkk (2004) dan Wilkes dkk (2003) : terdapat hubungan antara berat badan maternal dengan distosia.

DISTOSIA : 

Distosia adalah akibat dari 3 gangguan atau kombinasi antara : Kelainan Tenaga Persalinan. Kekuatan His yang tidak memadai atau tidak terkordinasi dengan baik agar dapat terjadi dilatasi dan pendataran servik (‘uterine dysfunction’) ; serta gangguan kontraksi otot abdomen pada kala II. Kelainan Passanger ( presentasi-posisi dan perkembangan janin ) Kelainan pada PASSAGE kelainan tulang pelvis dan Kelainan Jaringan Lunak dari saluran reproduksi yang menghalangi desensus janin DISTOSIA

DISTOSIA : 

Kelainan POWER : kontraksi uterus dan kemampuan ibu meneran Kelainan PASSANGER : keadaan janin Kelainan PASSAGE : keadaan panggul/organ sekitar jalan lahir DISTOSIA

Tabel : Temuan Klinik Tersering pada Wanita dengan Persalinan yang Tidak Efektif : 

Tabel : Temuan Klinik Tersering pada Wanita dengan Persalinan yang Tidak Efektif Dilatasi servik atau desensus tidak adekwat “Protracted Labor” - kemajuan persalinan lambat “Arrested Labor” - tidak terdapat kemajuan persalinan Usaha meneran pada kala II kurang memadai – proses meneran tidak efektif sehingga desensus terganggu Disproporsi Fetopelvik Janin besar Kapasitas panggul kurang Kelainan letak janin Ketuban Pecah Dini [ yang tak segera diikuti dengan proses persalinan ]

DISTOSIA : 

DISTOSIA CEPHALO PELVIC DISPROPORSI PARTUS TAK MAJU

“Cephalopelvic Disproportion” : 

“Cephalopelvic Disproportion” Merupakan terminologi yang disampaikan awal abad XX untuk menjelaskan adanya partus macet yang disebabkan oleh disparitas antara ukuran kepala janin dengan panggul ibu sehingga persalinan pervaginam tidak bisa berlangsung. Olah dan Neilson (1994) terminologi tersebut sebenarnya berasal dari indikasi utama tindakan SC saat itu pada kasus kontraktur pelvik akibat penyakit rachitis [ saat ini sudah sangat jarang ] dan saat ini sebagian besar disproporsi berasal dari malposisi kepala janin dalam panggul (asinklitismus) atau akibat gangguan kontraksi uterus.

“Cephalopelvic Disproportion” : 

“Cephalopelvic Disproportion” CPD adalah diagnosa yang sangat tidak objektif oleh karena lebih dari 2/3 pasien dengan diagnosa CPD dan menjalani SC, pada persalinan selanjutnya ternyata dapat melahirkan janin spontan pervaginam yang tidak jarang lebih besar dan lebih berat dari persalinan sebelumnya.

“Failure to Progress” (partus tak maju) : 

“Failure to Progress” (partus tak maju) Istilah ini menjadi terminologi populer untuk menyatakan adanya persalinan yang tidak berlangsung secara efektif pada persalinan spontan atau dengan induksi. Terminologi ini biasa digunakan pada situasi dimana kemajuan dilatasi servik dan atau desensus janin tidak terjadi atau berlangsung tidak normal.

Tindakan SC dengan indikasi distosia sering menjadi hal yang bersifat kontroversial oleh karena beberapa hal : : 

Tindakan SC dengan indikasi distosia sering menjadi hal yang bersifat kontroversial oleh karena beberapa hal : Penegakkan diagnosa distosia yang tak tepat Efek pengunaan analgesia epidural tak diperhitungkan Kecemasan medikolegal yang berlebihan Kenyamanan klinis bagi dokter atau pasien ( dokter terburu-buru atau pasien menghendaki hal yang “terbaik” bagi dirinya ) Stimulasi oksitosin tidak diberikan dengan metode yang tepat dan benar.

American College of Obstetricians and Gynecologist (1995a) : 

American College of Obstetricians and Gynecologist (1995a) Sebelum diagnosa distosia ditegakkan, dilatasi servik harus sudah lebih dari 4 cm

MEKANISME DISTOSIA : 

MEKANISME DISTOSIA Pada akhir kehamilan, agar dapat melewati jalan lahir kepala harus dapat mengatasi tebalnya SBR dan servik yang masih belum mengalami dilatasi. Perkembangan otot uterus di FU dan daya dorong terhadap bagian terendah janin adalah faktor yang mempengaruhi kemajuan persalinan kala I. Setelah Ø lengkap, hubungan mekanis antara ukuran dan posisi kepala janin serta kapasitas panggul (fetopelvic proportion) dikatakan baik bila desensus janin sudah terjadi.

MEKANISME DISTOSIA : 

MEKANISME DISTOSIA Kondisi tulang panggul bukan satu-satunya penentu keberhasilan berlangsungnya proses persalinan pervaginam. Bila tidak ada data objektif untuk mendukung adanya disfungsi uterus dan FPD, harus dilakukan TRIAL of LABOR untuk menentukan apakah persalinan pervaginam dapat berhasil pada sebuah persalinan yang berdasarkan pengamatan nampaknya berlangsung secara tidak efektif. Banyak ahli yang berpendapat bahwa tindakan TRIAL of LABOR adalah merupakan prioritas utama dalam menurunkan kejadian sectio caesar.

MEKANISME DISTOSIA : 

MEKANISME DISTOSIA FPD menjadi jelas bila persalinan sudah masuk kala II. Gangguan fungsi otot uterus dapat terjadi akibat regangan uterus berlebihan dan atau partus macet [obstructed labor]. Dengan demikian maka persalinan yang tidak berlangsung secara efektif adalah merupakan tanda akan adanya fetopelvic disproportion. Membedakan gangguan persalinan menjadi disfungsi uterus dan fetopelvic disproportion secara tegas adalah tindakan yang tidak tepat oleh karena kedua hal tersebut sebenarnya memiliki hubungan yang erat.

ABNORMALITAS TENAGA PERSALINAN : 

ABNORMALITAS TENAGA PERSALINAN Dilatasi servik dan propulsi serta ekspulsi janin dimungkinkan oleh adanya HIS dan USAHA MENERAN pada persalinan kala II. Kurangnya intensitas satu atau kedua faktor diatas akan menyebabkan perjalanan partus yang terhambat atau terganggu. Diagnosa disfungsi uterus pada kala I fase laten sulit ditegakkan dan umumnya dibuat secara retrospektif. Salah satu kesalahan yang sering dilakukan adalah terapi disfungsi uterus pada pasien yang masih belum inpartu !!!!

3 hal penting yang perlu diperhatikan dalam penatalaksanaan disfungsi uterus: : 

3 hal penting yang perlu diperhatikan dalam penatalaksanaan disfungsi uterus: Membiarkan berlangsungnya partus lama tanpa tindakan akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal. Oksitosin drip dapat digunakan untuk mengatasi beberapa jenis disfungsi uterus. Pada kasus dengan kegagalan atau terdapat kontra-indikasi oksitosin drip, pilihan untuk melakukan SC lebih utama dibandingkan pilihan persalinan dengan ekstrasi cunam tengah yang secara teknis sulit dikerjakan.

JENIS DISFUNGSI UTERUS : 

JENIS DISFUNGSI UTERUS Disfungsi uterus HIPOTONIK : Tidak ada tonus basal Kontraksi uterus memiliki pola gradasi normal ( synchronous) tetapi Tekanan yang ditimbulkan oleh kontraksi uterus tidak cukup untuk menyebabkan terjadinya dilatasi servik. Disfungsi HIPERTONIK Basal tonus meningkat dan atau Kekacauan dalam gradasi tekanan yang ditimbulkan oleh his akibat tekanan yang ditimbulkan oleh his dibagian tengah uterus lebih besar daripada yang dihasilkan oleh bagian fundus dan atau adanya peristiwa asinkronisme dari rangsang yang berasal dari cornu.

Disfungsi uterus HIPOTONIK : 

Disfungsi uterus HIPOTONIK

Gangguan persalinan kala I Fase Aktif : 

Gangguan persalinan kala I Fase Aktif Lebih lambat dari kemajuan persalinan yang normal [ “protraction disorder” ] dan atau Terhentinya kemajuan persalinan [ “arrest disorder” ]

Disfungsi Uterus HIPERTONIK : 

Disfungsi Uterus HIPERTONIK

“Active phase arrest” : 

“Active phase arrest” Handa dan Laros (1993) : Active-phase arrest adalah bila dalam waktu = 2 jam tidak terdapat kemajuan pada dilatasi servik Angka kejadian : 5% pada nulipara dengan kehamilan aterm (menurut Friedman pada tahun 1978, angka kejadian ini tidak berubah sejak tahun 1950 ) His tidak adekwat adalah bila kekuatannya ? 180 Montevideo Unit dan keadaan ini terdapat pada 80% kasus terhentinya fase aktif [“active-phase arrest”].

“Protraction disorder” : 

“Protraction disorder” Definisi keadaan ini sulit ditentukan. WHO : dalam partograf dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan “protraction” adalah kecepatan dilatasi servik ? 1 cm per jam untuk waktu minimum 4 jam. Kriteria “active phase arrest” dan “protraction disorder” menurut American College of Obstetricians and Gynecologist dapat dilihat pada tabel 18.2 berikut :

Tabel 18.2 Criteria for Diagnosis of Abnormal Labor Due to Arrest or Protraction Disorder : 

Tabel 18.2 Criteria for Diagnosis of Abnormal Labor Due to Arrest or Protraction Disorder

Tabel 18.3 Abnormal Labor Patterns, Diagnostic Criteria and Methodes of Treatment : 

Tabel 18.3 Abnormal Labor Patterns, Diagnostic Criteria and Methodes of Treatment

Sebelum menegakkan diagnosa “arrest” selama persalinan kala I maka kedua kriteria berikut harus dipenuhi: : 

Sebelum menegakkan diagnosa “arrest” selama persalinan kala I maka kedua kriteria berikut harus dipenuhi: Dilatasi servik sudah lebih dari 4 cm. His dengan kekuatan 200 Montevideo Unit selama 10 menit sudah berlangsung selama 2 jam tanpa diikuti dengan perubahan pada servik.

Gangguan persalinan kala II : 

Gangguan persalinan kala II Desensus kepala terutama terjadi setelah dilatasi servik lengkap [ kala II ] Sebagian besar dari “seven cardinal movement of labor” berlangsung pada kala II. Akibat dari adanya kelainan CPD umumnya terlihat pada kala II. Batas waktu kala II pada nulipara adalah 2 jam ( 3 jam pada kasus dengan anestesi regional) dan pada multipara adalah 1 jam ( 2 jam pada kasus dengan anestesi regional).

PARTUS PRESIPITATUS : 

PARTUS PRESIPITATUS Hughes (1972) : partus presipitatus adalah kejadian dimana ekspulsi janin berlangsung kurang dari 3 jam setelah awal persalinan. Ventura dkk (2000) : angka kejadian partus presipitatus tahun 1998 di USA sebesar 2% dan terutama terjadi pada multipara dengan frekuensi kontraksi uterus kurang dari 2 menit. Mahon dkk (1979) : “short labor” adalah bila kecepatan dilatasi servik pada nulipara > 5 cm/jam dan pada multipara 10 cm/jam.

PARTUS PRESIPITATUS : 

PARTUS PRESIPITATUS Partus presipitatus sering berkaitan dengan : Solusio plasenta (20%) Aspirasi mekonium. Perdarahan post partum. Pengguna cocain. Apgar score rendah.

PARTUS PRESIPITATUS : 

PARTUS PRESIPITATUS Komplikasi maternal: Jarang terjadi bila dilatasi servik dapat berlangsung secara normal. Bila servik panjang dan jalan lahir kaku, akan terjadi robekan servik dan jalan lahir yang luas. Emboli air ketuban (jarang). Atonia uteri dengan akibat HPP.

PARTUS PRESIPITATUS : 

PARTUS PRESIPITATUS Komplikasi janin : Morbiditas dan mortalitas perinatal meningkat oleh karena : Kontraksi uterus yang terlalu kuat akan menyebabkan asfiksia intrauterin. Trauma intrakranial akibat tahanan jalan lahir. Acker dkk (1988) melaporkan kejadian Erb atau Duchene paralysis pada 1/3 kasus partus presipitatus. Persalinan tanpa pertolongan yang baik akan menyebabkan cedera pada janin akibat terjatuh dilantai atau tidak dapat segera memperoleh resusitasi bila diperlukan.

PARTUS PRESIPITATUS : 

PARTUS PRESIPITATUS Penatalaksanaan Kejadian ini biasanya berulang, sehingga perlu informasi dan pengawasan yang baik pada kehamilan yang sedang berlangsung. Hentikan pemberian oksitosin drip bila sedang diberikan.

Slide 38: 

Rujukan American College of Obstetricians and Gynecologist : Dystocia and augmentation of labor. Practice Bulletin No. 40 , November 2002 Cunningham FG et al : Dystocia – Abnormal Labor in “ Williams Obstetrics” , 22nd ed, McGraw-Hill, 2005 Gifford DS, Morton SC, Fiske M et al: Lack of progress in labor a reason for caesarean. Obstet Gynecol 95:589;2000 Joseph KS, Young DC, Dodds, L et al: Changes in maternal characteristik and obstetric practice and recent increases in primary caesarean delivery. Obstet Gynecol 102;791,2003 Nuthalapaty FS, Rouse DJ, Owen J : The association of maternal weight with caesarean risk, labor duration, and cervical dilatation rate during labor induction. Obstet Gynecol 103;452, 2004 Roy RP: A Darwinian view of obstructed labor, Obstet Gynecol 101;397,2003 Zhu, BP; Grigorescu V, Le T, Lin M, Copeland G; Barone M; Turabelidze G (2006). "Labor dystocia and its association with interpregnancy interval".

sekian : 

sekian Jakarta , April 2006 dr. Bambang Widjanarko, SpOG Bag. Ilmu Kebidanan & Peny.Kandungan Fakultas Kedokteran & Kesehatan UMJ Jakarta

authorStream Live Help