OBAT-IMUNOLOGI

Views:
 
Category: Entertainment
     
 

Presentation Description

obat muiologi

Comments

Presentation Transcript

OBAT IMUNOLOGI: 

OBAT IMUNOLOGI

Pendahuluan: 

5/13/2013 2 Pendahuluan Imunitas: kemampuan untuk bertahan dari infeksi dan penyakit Sistem imun: seluruh sel dan jaringan tubuh yang terlibat dalam menghasilkan imunitas Pertahanan tubuh: Non spesifik Spesifik

Non Spesifik: 

5/13/2013 3 Non Spesifik

Spesifik: 

5/13/2013 4 Spesifik

Slide 5: 

5/13/2013 5

Slide 6: 

5/13/2013 6 VAKSIN

Perkembangan: 

5/13/2013 7 Perkembangan Edward Jenner (1796)  menggunakan lesi cacar untuk mencegah cacar Robert Koch (1876)  mengembangkan beberapa postulat yang dapat digunakan untuk mengetahui penyebab dari suatu penyakit Louis Pasteur (1885)  mengembangkan vaksin rabies dan antraks Jonas Salk (1955)  mengembangkan vaksin injeksi polio Albert Sabin (1961)  mengembangkan vaksin oral polio

Slide 8: 

5/13/2013 8 Perkembangan vaksin menggunakan postulat Koch Sampel darah kelinci sakit diambil Patogen diisolasi Patogen tersangka diberikan ke kelinci sehat Kelinci sehat jadi sakit, patogen penyebab terisolasi   

Mekanisme Kerja: 

5/13/2013 9 Mekanisme Kerja Vaksin mengandung antigen  menghasilkan respon imun primer  peningkatan jumlah sel T dan sel B memori untuk patogen spesifik  respon imun sekunder terpicu  menyebabkan terjadinya kontak dengan antogen yang sama, respon imun segera terjadi (biasanya tidak disadari)  imunitas mungkin tidak menentap dan membutuhkan vaksin penguat

Pembuatan: 

5/13/2013 10 Pembuatan Isolasi dan identifikasi agen penyebab sakit  postulat Koch Melemahkan antigen  agar tidak menyebabkan sakit  mengobatai patogen dengan radiasi gamma atau secara kimia  dapat memicu respon imun tapi tidak menyebabkan sakit Diuji coba pada binatang  kerja vaksin dan efek sampingnya  uji coba kepada manusia Dimurnikan dan dikemas

Jenis: 

5/13/2013 11 Jenis Dilemahkan  hidup  jenis yang lemah (MMR) Mati  patogennya mati tapi tetap utuh  rabies Toksoid  toksin yang tidak aktif (tetanus) Fragmen subselular  protein spesifik dari patogen yang digunakan (Hepatitis B) DNA  menggunakan potongan DNA patogen untuk menghasilkan imunitas (influenza)

Slide 12: 

5/13/2013 12 Vaksin penguat direkomendasikan setiap 10 tahun hanya untuk tetanus dan difteri, lainnya imunitas seumur hidup

Pemberian: 

5/13/2013 13 Pemberian oral – Vaksin polio Sabin Injeksi im  DPT, vaksin IgG polio tidak aktif, rabies sk  MMR, varisela (cacar air), vaksin polio tidak aktif Inhalasi  dalam uji coba klinis  influenza

Keamanan: 

5/13/2013 14 Keamanan Efek samping: Normal: demam, bengkak dan/atau meradang di tempat suntikan, peradangan otot Sedikit jarang: reaksi alergi (komponen vaksin  albumin), reaksi imun yang berat terhadap komponenaktif vaksin Kegagalan: Imunitasnya tidak berkembang setelah pengulangan vaksinasi  idak diketahui penyebabnya Pasien lansia tidak merespon vaksin dengan baik

Risiko perkembangan penyakit dari suatu vaksin lebih rendah dari risiko perkembangan penyakit setelah infeksi*: 

5/13/2013 15 Risiko perkembangan penyakit dari suatu vaksin lebih rendah dari risiko perkembangan penyakit setelah infeksi* Risk associated with vaccine Risk associated with infection MMR: 1 in 1,000,000 Measles: 1 in 2,000 for for encephalitis encephalitis Mumps: 1 in 300 for encephalitis Rubella: 1 in 4 for congenital rubella syndrome if infection occurs in early pregnancy DPT : No proven Diptheria, Pertussis, Tetanus, deaths deaths: 1 in 20, 1 in 200, and 3 in 100, respectively * data dari CDC

Manfaat: 

5/13/2013 16 Manfaat Risikonya lebih rendah, rata-rata, bila seseorang terkena penyakit Lebih mudah memberi vaksin dari mengobati penyakitnya Mengurangi jumlah yang terinfeksi, melindungi populasi sisanya Menghemat jutaan dolar dan meningkatkan produktivitas  mengurangi waktu sakit, mengurangi pengeluaran untuk berobat

Masa Depan: 

5/13/2013 17 Masa Depan Vaksin akan diberikan secara genetik di dalam makanan  pisang, kentang Masalah penyimpanan dan pemberian: tidak perlu pendingin, tidak perlu jarum, tidak perlu teknisi pemberian vaksin (perawat, bidan, dokter)

Slide 18: 

5/13/2013 18 OBAT IMUNOSUPRESAN

Mekanisme Kerja: 

5/13/2013 19 Mekanisme Kerja Menghambat proses fagositosis dan pengolahan Ag menjadi Ag imunologik oleh makrofag Menghambat pengenalan Ag oleh sel limfoid imunokompeten Merusak sel limfoid imunokompeten Menekan diferensiasi dan proliferasi sel imunokompeten  tidak terbentuk sel plasma penghasil Ab atau sel T yang tersensitisasi untuk respon imun selular Menghentikan produksi Ab oleh sel plasma serta melenyapkan sel T yang tersensitisasi yang telah terbentuk

Fase Respon Imun: 

5/13/2013 20 Fase Respon Imun Fase induksi: Fase pengolahan Ag oleh makrofag dan pengenalan Ag oleh limfosit imunokompeten Fase proliferasi dan diferensiasi sel B dan sel T, untuk respon imun humoral dan selular Fase produksi: Fase sintesis aktif Ab oleh limfokin

Pilahan Obat: 

5/13/2013 21 Pilahan Obat Kelas I  harus diberikan sebelum fase induksi Kelas II  diberikan dalam fase induksi Kelas III  memiliki sifat kelas I dan kelas II

Kelas I: 

5/13/2013 22 Kelas I Busulfan L-melfalan D-melfalan Glukokortikoid: prednison, prednisolon Mitomisin C Kolkisin Fitohemaglutinin Sinar X

Kelas II: 

5/13/2013 23 Kelas II Klorambusil Metotreksat Azatriopin 6-merkaptopurin (6-MP) Sitarabin (ARA-C) 5-bromo-deoksiuridin (5-BUdr) 5-fluoro-deoksiuridin (5-FUdr) 5-fluorourasil (5-FU) Vinblastin (VBL) Vinkristin (VCR) Siklosporin

Kelas III: 

5/13/2013 24 Kelas III Siklofosfamid Prokarbazin

Azatriopin: 

5/13/2013 25 Azatriopin Untuk mencegah penolakan pencangkokkan organ, pengobatan RA yang berat dan refrakter Keracunan: leukopenia, trombositopenia  monitor dengan baik Efek samping: mual, muntah Sediaan: tablet 50 mg, iv 100 mg

Metotreksat: 

5/13/2013 26 Metotreksat Antineoplasia, digunakan untuk mencegah penolakan cangkok sumsum tulang, penghambat kuat enzim dihidrofolat reduktase  efek biosentesis timidilat dan purin Juga dapat digunakan untuk pengobatan RA yang aktif dan berat Efek toksik: fibrosis dan sirosis hati  penggunaan jangka lama dosis rendah

Siklofosfamid: 

5/13/2013 27 Siklofosfamid Mengurangi respon imun humoral dan meningkatkan respon imun selular Diaktifkan oleh enzim mikrosom hati Untuk pencegahan cangkok organ, pengobatan RA, sindrom nefrotik, granulomatosis Wagener

Kortikosteroid: 

5/13/2013 28 Kortikosteroid Glukokortikoid  prednison, prednisolon Bekerja di respon imun humoral, juga sebagai antiinflamasi

Siklosporin: 

5/13/2013 29 Siklosporin Berasal dari jamur Tolypocladium inflatum gams Menyebabkan turunnya produksi dan penglepasan limfokin Digunakan untuk cangkok organ: hati, ginjal, sumsum tulang Absorbsi melalui oral berkisar 20% - 50%, berada di eritrosit, metabolisme di hati, ekskresi melalui empedu Efek toksis: ginjal Sediaan: larutan 100 mg/mL, iv 50 mg/mL

Antibodi: 

5/13/2013 30 Antibodi Untuk ibu dengan rhesus negatif  mencegah abortus