Reorientasi Nilai-Nilai Moral dan Agama

Views:
 
Category: Entertainment
     
 

Presentation Description

No description available.

Comments

Presentation Transcript

Reorientasi Nilai-nilai Moral dan Agama:Pengembangan Penalaran, Intuisi dan Perasaan Moral Menuju Insan Melek Moral : 

Reorientasi Nilai-nilai Moral dan Agama:Pengembangan Penalaran, Intuisi dan Perasaan Moral Menuju Insan Melek Moral Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si.

Standar Kompetensi Kemandirian Mahasiswa : 

Standar Kompetensi Kemandirian Mahasiswa Landasan Hidup Religius Landasan Perilaku Etis Kematangan Emosi Kematangan Intelektual Kesadaran Tanggungjawab Sosial Kesadaran Gender Pengembangan Pribadi Perilaku Kewirausahaan Wawasan dan Kesiapan Karir Kematangan Hubungan Sosial Kesiapan Diri Berkeluarga

Landasan Hidup Religius : 

Landasan Hidup Religius Mengkaji lebih dalam makna kehidupan beragama Menghayati nilai-nilai agama sebagai pedoman berperilaku Melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan

Landasan Perilaku Etis : 

Landasan Perilaku Etis Menelaah lebih luas nilai-nilai universal kehidupan manusia Menghargai keyakinan nilai-nilai sendiri dalam keragaman nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat Berperilaku atas dasar keputusan yang mempertimbangkan aspek nilai Berani menghadapi risiko dari keputusan yang diambil

Tantangan Nilai-nilai Moral dan Agama : 

Tantangan Nilai-nilai Moral dan Agama Relativisme Absolutisme Pluralisme Materialisme Legalisme

Relativisme : 

Relativisme Anggapan atau keyakinan bahwa tidak ada standar penilaian moral, atau kaidah-kaidah yang berlaku untuk semua orang atau masyarakat. Apa yang secara moral benar, mungkin salah berbeda-beda antara satu orang dengan orang lain, antara satu masyarakat dengan masyarakat lain. Relativisme Personal Relativisme Kultural

Absolutisme : 

Absolutisme Keyakinan bahwa tidak ada ruang lagi bagi pendapat dalam nilai moral dan agama, karena semua penilaian moral sebenarnya sama untuk semua orang Absolutisme agama Absolutisme budaya Absolutisme pribadi

Pluralisme : 

Pluralisme Keyakinan bahwa suatu sistem universal moral etik bersifat mustahil, karena ada begitu banyak perbedaan pendapat dan cara pandang Pluralisme Multikulturalisme

Materialisme : 

Materialisme Anggapan bahwa telaah moral etika tidak bernilai, karena manusia sekedar kumpulan benda dan energi, tanpa kualitas spiritual yang menjadi dasar etika Materialisme Eksistensialisme Sekularisme

Legalisme : 

Legalisme Keyakinan bahan telaah moral etika tidak perlu lagi karena sudah dimiliki undang-undang yang mengatur perilaku manusia, standar moral etika sama dengan standar hukum Kepastian legal Kepastian substantif

Tuntutan Reorientasi Nilai Moral : 

Tuntutan Reorientasi Nilai Moral Nevertheless, one generation cannot hand down already-made set of values to another. For each new stage in history brings new developments wich require a reorientation in morals and values, in order that they properly serve the society that created them (Rogers, 1977: 186). Suatu generasi tidak dapat sekedar menyampaikan seperangkat nilai yang siap pakai kepada generasi penerusnya. Setiap tahapan sejarah baru membawa perkembangan-perkembangan baru yang menuntut reorientasi perangkat nilai dan moral, agar senantiasa bekerja bagi masyarakatnya.

Individu Modern, Melek Moral : 

Individu Modern, Melek Moral Tuana (2003): setiap orang di jaman yang berubah cepat adalah pelaku moral (moral agent). Agar agen moral bisa menghargai, memilih, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan kepatutan, maka seseorang harus melek moral (moral literate).

Komponen Melek Moral : 

Komponen Melek Moral One of the basic components of moral literacy is ensuring that one is knowledgeable. Just as a scientist can conduct successful research only by being well-informed about all relevant facts and theories, so too the moral person must be well-informed (Tuana, 2003: 1). Komponen pertama melek moral adalah berpengetahuan memadai (knowledgeable). Seperti ilmuwan yang hanya bisa menyelenggarakan penelitian dengan berhasil apabila mengetahui dengan baik tentang semua fakta dan teori yang relevan.

Komponen kedua melek moral : 

Komponen kedua melek moral A second component of becoming a moral agent involves cultivating moral virtues. Common moral virtues that are shared across cultures include honesty, fairness, respect, responsibility, and caring. Our sense of ourselves, as well as what others think of us, often rests on the extent to which we live up to these virtues (Tuana, 2003: 2). Komponen kedua agar menjadi agen moral melibatkan penumbuhan kearifan moral. Sejumlah kearifan moral umum yang diterima oleh berbagai kebudayaan mencakup kejujuran, keadilan, kehormatan, tanggungjawab dan kepedulian.

Komponen ketiga melek moral : 

Komponen ketiga melek moral A third component of moral literacy is the development of skills of moral reasoning. Moral reasoning is complex, requiring attention to rights and duties, codes of action, the intentions of actors, and the consequences of actions. Along with the critical-reasoning skill of identifying unwarranted assumptions or prejudices, moral reasoning requires identifying the values at play in any moral situation (Tuana, 2003: 3). Komponen ketiga melek moral adalah pengembangan ketrampilan penalaran moral. Penalaran moral bersifat rumit, menuntut perhatian terhadap hak dan kewajiban, kode etik tindakan, tunjuan pelaku, dan akibat-akibat tindakan. Penalaran moral menuntut pengenalan nilai-nilai yang bekerja dalam situasi moral tertentu.

Moral Reasoning : 

Moral Reasoning Moral reasoning also necessitates being open-minded, listening carefully to the views of others, considering the ethical implications of decisions, learning how to evaluate the strengths and weaknesses of our own and others’ positions, and taking responsibility for our actions and beliefs. It means being willing to investigate our own values. But investigating values does not mean rejecting them. In fact, the practice of moral reasoning often results in commitments becoming stronger as one comes to appreciate more fully the reasons they are embraced (Tuana, 2003: 3).

Penalaran Moral : 

Penalaran Moral Penalaran moral juga membutuhkan keterbukaan pikiran, penyimakan secara seksama terhadap pandangan orang lain, mempertimbangkan implikasi etik keputusan, belajar bagaimana menilai kelebihan dan kekurangan pendirian kita sendiri dan orang lain, serta mengambil tanggung jawab terhadap tindakan dan keyakinan kita. Ini berarti ada kesediaan untuk mengkaji nilai-nilai kita sendiri. Akan tetapi, pengkajian terhadap nilai-nilai demikian tidak berarti menolak nilai-nilai dimaksud. Secara nyata, praktik penalaran moral malah seringkali menghasilkan komitmen yang lebih kuat manakala seseorang telah sampai pada penghargaan secara lebih tuntas terhadap alasan-alasan yang mendasari tindakannya.

Moral Diversity : 

Moral Diversity Moral diversity has important implications for our understanding of moral reasoning. Especially at advanced levels, moral reasoning is in large part the reflective coordination of multiple social and moral perspectives (Carpendale, 2000). To construe moral reasoning as a process of coordination is to suggest that it typically does not involve a choice between two or more perspectives but rather an effort to find a resolution that is satisfactory from multiple points of view (Moshman, 2005: 70).

Keragaman Moral : 

Keragaman Moral Keragaman moral memiliki implikasi penting bagi pemahaman kita terhadap penalaran moral. Secara khusus, pada tingkat lanjut, penalaran moral sebagian besarnya merupakan koordinasi reflektif dari perspektif moral sosial yang majemuk. Memahami penalaran moral sebagai suatu proses koordinasi berarti mengakui bahwa penalaran moral tidak sekadar melibatkan suatu pilihan antara dua atau lebih perspektif, melainkan suatu usaha untuk menemukan suatu pemecahan yang memuaskan dari berbagai sudut pandang majemuk.

The Role of Intuition : 

The Role of Intuition To suggest that this coordination is reflective, moreover, is to propose that it does not occur automatically but rather involves a deliberate effort to construct a justifiable resolution. This is not to deny that we regularly make intuitive moral inferences, beginning at very early ages (Haidt, 2001; Walker, 2000). Penalaran moral tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan melibatkan usaha yang sungguh-sungguh untuk menyusun suatu pemecahan yang dapat dibenarkan. Tidak berarti menolak pikiran bahwa kita terbiasa membuat penarikan kesimpulan moral intuitif.

The Role of Feeling : 

The Role of Feeling The moral life is a constant interplay between reason and feeling” (Grassian, 1992: 25). Kehidupan moral merupakan suatu perpaduan antara penalaran dan perasaan. Karena itu, perlu dikembangkan pula perasaan moral.

Intuitionist and Emotionist Model : 

Intuitionist and Emotionist Model Perlu upaya-upaya pembinaan moral baik melalui pendekatan non rasional (Haidt, 2003) Model intuisionisme sosial (social intuitionist model). Dengan keluaran kecerdasab moral Model perasaan moral (moral emotionist model) Dengan keluaran kepekaan moral.

Reorientasi Nilai-nilai Moral dan Agama : 

Reorientasi Nilai-nilai Moral dan Agama Pengembangan kecakapan penalaran moral Pengembangan kecerdasan intuisi moral Pengembangan kepekaan perasaan moral Karena setiap orang adalah agen moral Karena permasalahan moral tak cukup lagi didekati dengan pengajaran moral

Terimakasih : 

Terimakasih

authorStream Live Help