PENANGANAN TERKINI RUPTUR PERINEUM TOTAL

Views:
 
Category: Entertainment
     
 

Presentation Description

No description available.

Comments

Presentation Transcript

PENANGANAN TERKINI RUPTUR PERINEUM TOTALIS : 

I Gede Mega Putra Bag/SMF Obgin FK UNUD/RSUP Sanglah Denpasar PENANGANAN TERKINI RUPTUR PERINEUM TOTALIS

Sejarah : 

Sejarah Bukti terjadinya cedera perineum akibat persalinan pertamakali pada mumi Henhenit (wanita Mesir 22 tahun) pada jaman raja Mentuhotep II, skt 2050 SM Penjahitan luka perineum pertamakali tercatat pada buku Al Kanoun (Avicenna) ~ jahitan silang Celsus : tirah baring dan apitkan kedua kaki

Sejarah : 

Sejarah Abroise Pare, Mauriceau, Smellie : rekomendasi jahit Guillemiau (1610): jahit RG IV dgn jarum lurus dan benang berpilin  gagal Roux (1834) : aproksimasi tepi luka dgn jahitan kontinyu Akhir 1800 : keberhasilan penyembuhan sekitar 50-60%

Sejarah : 

Sejarah Cunningham dan Pilkington : melakukan 4 jahitan interuptus pada kapsul spingter ani eksternus (EAS) yaitu bgn anterior, posterior, superior dan inferior  aproksimasi end-to-end Menjadi standar dan masih digunakan secara luas Sultan memperkenalkan tehnik overlap

Latar belakang : 

Latar belakang Obstetric anal sphincter injury (OASI) Kausa mayor dari inkontinensia ani Sultan dkk (1995) Pemahaman klinisi dan paramedis ttg anatomi perineum dan spingter ani masih kurang Hanya 6% yg mendapat pelatihan Hanya 1/3 konsultan di Inggris yg pernah mendapat pelatihan yg baik dalam repair spingter ani

Slide 7: 

Ventral region of the perineal membrane Dorsal region of the perineal membrane compressor urethra urethrovaginal sphincter

Latar belakang : 

Latar belakang Tehnik repair konvensional : end to end dengan jahitan satu satu / 8 Sultan dkk (1999) : tehnik overlap menurunkan prevalensi inkontinensia ani dari 41%  8% dan defek spingter ani persisten berkurang dari 85%  15% Fernando dkk (2004) : melakukan follow up pada 64 pasien Tehnik end to end  inkontinensia ani ~ 24% Tehnik overlap  tidak ada keluhan

Slide 9: 

Spingter ani eksterna

Slide 10: 

Tepi spingter ani eksterna Mukosa anus

Slide 11: 

End to end overlap

Prevalensi trauma spingter ani : 

Prevalensi trauma spingter ani Sepertiga wanita tidak tahu kalau mengalami kerusakan spingter saat persalinan (Donelly dkk 1998, Sultan dkk 1993)  risiko terjadi inkontinensia ani Hanya 16% dokter dan 39% bidan mendapat pelatihan adekuat (Sultan 1995) Fernando dkk (2002), Sultan dkk (1995) : 40% spesialis dan trainee mengklasifikasikan ruptur spingter ani komplit/parsial sebagai ruptur perineum tingkat II

Klasifikasi ruptur perineum : 

Klasifikasi ruptur perineum First degree: laceration of the vaginal epithelium or perineal skin only. Second degree: involvement of the perineal muscles but not the anal sphincter. Third degree: disruption of the anal sphincter muscles which should be further subdivided into: 3a: <50% thickness of external sphincter torn. 3b: >50% thickness of external sphincter torn. 3c: internal sphincter also torn. Fourth degree: a third degree tear with disruption of the anal epithelium as Well.

Slide 14: 

anatomy of the anal sphincter

Slide 15: 

1st-degree injury Injury to the perineal skin only. Perineal muscles are intact. Injury to the perineum involving perineal muscles but not the anal sphincter. 2nd-degree injury 3rd-degree injury Injury to the perineum involving the external anal sphincter (EAS) and the internal anal sphincter (IAS) 3a >50% of EAS thickness torn 3b<50% of EAS thickness torn 3c IAS 4th-degree injury Injury to the perineum involving the EAS and IAS and rectal mucosa

Instrumen Perineal Repair : 

Instrumen Retractor Weislander’s Forceps gigi (fine & strong) Needle holder (small and large) Forceps Allis (4) Forceps arteri (6) Gunting McIndoe Gunting pemotong jahitan Spekulum Sims Retraktor dinding samping dalam vagina Forceps pemegang kasa Tampon Kapas besar Diatermi Instrumen Perineal Repair

Teknik Repair Obstetric Anal Sphincter Injuries (OASIS) : 

Teknik Repair Obstetric Anal Sphincter Injuries (OASIS) Dilakukan oleh orang sudah berpengalaman dan terdaftar, bila ragu  konsultasi & jahitan situasi Di kamar operasi cahaya cukup, peralatan lengkap dan aseptik. Anestesi regional & umum  relaksasi otot. Pastikan klasifikasi luka perineum. Luka epitel anus harus dijahit dengan jahitan satu-satu dengan benang vicryl 3.0 dengan ikatan pada lumen anus. Luka sfingter ani  end-to-end aproksimasi, jahitan satu-satu dengan benang PDS 3.0 Jika m. sfingter ani < 50% jahitan end to end  matras, jika komplit  jahitan overlap.

The Sultan Anal Sphincter Model : 

The Sultan Anal Sphincter Model

Anorectal Mucosal Repair Using Interrupted Vicryl 3-0 Sutures : 

Anorectal Mucosal Repair Using Interrupted Vicryl 3-0 Sutures

Internalsphincter Repaired With 3-0 Pds Mattress Sutures : 

Internalsphincter Repaired With 3-0 Pds Mattress Sutures

Slide 22: 

Identifikasi dan pegang dengan benar ujung otot. Teknik overlap vs. end to end  panjang anal merupakan prediktor utk terjadinya inkontinensia fekal Rekonstruksi badan perineum. Dilanjutkan dgn jahitan subkutikuler kulit. Perineum yang pendek  lebih rentan terhadap trauma pada proses persalinan pervaginam berikutnya. Pemeriksaan vagina dan rektum ulang utk konfirmasi AB spektrum luas dimulai intraoperatif dilanjutkan dgn antibiotik oral 5 - 7 hari. Kateter folley 1x24 jam. Catatan medik : temuan dan proses penjahitan. Pelunak feses (lactulose 15 mg bd) & agen penggumpal seperti Fybogel (Ispahula Husk) 1 sachet bd, 10 - 14 hr postop.

Slide 23: 

Kateter folley 1x24 jam. Catatan medik : temuan dan proses penjahitan. Pelunak feses, 10 - 14 hr pasca bedah. Edukasi ttg OASIS & bagaimana mencari pertolongan bila tdpt infeksi / inkontinensia. Follow up di klinik perineum  latihan dasar panggul & stimulasi elektrik untuk bbrp keadaan khusus.

Slide 24: 

Pasca Bedah Kateter folley minimal 1x24 jam. Antibiotic intravena (Cefuroxime 1,5 g & Metronidazol 500 mg) intraoperatif dan dilanjutkan oral selama 1 minggu. Pelunak feses selama 2 minggu, penjelasan pada pasien & tidak dipulangkan sblm aktivitas BAB kembali normal Penjelasan detail ttg trauma & bila ada masalah spt infeksi atau kontrol BAB yg sulit  segera kontrol Penatalaksanaan pasca bedah

Penatalaksanaan Persalinan pada riwayat ruptur derajat 3 atau 4 : 

Penatalaksanaan Persalinan pada riwayat ruptur derajat 3 atau 4 Riwayat robekan derajat 3 / 4  rujuk ke klinik perineum utk follow up & penatalaksanaan pd persalinan berikutnya. Dilakukan USG endoanal Bila kontinen & tidak ada defek sfingter ani  partus pervaginam dengan bidan senior atau dokter. Bila inkontinensia fekal ringan dgn defek sfingter ani  konseling & ditawarkan SC. Bila inkontinensia fekal berat  konseling risiko persalinan normal (risiko 5% robekan berulang) stlh penjahitan sfingter ani sekunder

Klinik Uroginekologi Dan Tatalaksana Kehamilan Berikutnya : 

Klinik Uroginekologi Dan Tatalaksana Kehamilan Berikutnya one-stop clinic utk masalah pasca salin Tdd : konsulen uroginekologi (terlatih utk anal manometry & ultrasonografi), bidan/perawat terlatih & rekan peneliti dari bidang klinis Akses ke spesialis perawat kontinensia, spesialis perawat kolorektal, ahli bedah kolorektal & konselor psikoseksual Dilengkapi dgn USG endoanal dan manometri s/d 16 minggu pasca salin : dispareuni, nyeri perineum, infeksi, prolaps, inkontinensia urin dan anal, & luka yang terbuka

Slide 27: 

OASI dengan keluhan Kemungkinan persalinan Traumatis Bayi besar POPP Partus macet USG endoanal & Manometri Defek > 1 kwadran Tek.rendah (<20 mmHg) Keluhan >> Pertimbangkan pervaginam Hindari trauma Tenaga berpengalaman Profilaksis episiotomi ? Penanganan konservatif : Diet Pengaturan BAB Bulking agent Latihan dasar panggul Biofeedback Kemungkinan OASI sekunder sc tidak tidak tidak ya ya ya

Slide 28: 

KEHAMILAN PASCA OASI SIMPTOMATIK ASIMPTOMATIK INJURI BERAT INJURI SEDANG INTAK INJURI BERAT INJURI SEDANG INTAK SC SC PER VAGINAM SC PER TIMBANG KAN SC PER VAGINAM Intak : defek spingter (-), tek. Normal Injuri sedang : defek < 1 kwadran, tek. Saat kontraksi 20-40 mmHg Injuri berat : defek > 1 kwadran, tek. Saat kontraksi < 20 mmHg

Slide 32: 

terimakasih

authorStream Live Help