materi bolavoli

Views:
 
Category: Sports
     
 

Presentation Description

No description available.

Comments

By: khairul93 (44 month(s) ago)

can i downlod this file??

By: khairul93 (44 month(s) ago)

can i downlod this file??

Presentation Transcript

LAPORANEVALUASI DAMPAK PROGRAM PEMBEKALAN GURU KELAS/AGAMA SD DALAM MATA PELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI : 

OLEH: TIM EVALUASI DAMPAK LAPORANEVALUASI DAMPAK PROGRAM PEMBEKALAN GURU KELAS/AGAMA SD DALAM MATA PELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI Program Pengendalian dan Peningkatan Mutu Guru Penjas Tahun 2006

Latar Belakang : 

Latar Belakang Masalah sub-sistem pendidikan jasmani dan olahraga, seperti tercermin dalam beberapa indikator yaitu: Ketidaksinambungan kurikulum pendidikan jasmani termasuk ketidaksinambungan komponen kurikulum; Rendahnya efektivitas pengajaran pendidikan jasmani ditinjau dari pencapaian tujuan sebagai pendidikan menyeluruh yang mencakup aspek fisikal, mental, sosial, emosional, dan moral; Lemahnya penyediaan sarana parasarana; Kesenjangan antara kurikulum sebagai dokumen dan kurikulum yang masuk ke dalam “kelas” yang diimplementasikan oleh guru;

Lanjutan . . . : 

Lanjutan . . . 5. Rendahnya efektivitas penyelenggaraan pembinaan dan peningkatan mutu guru penjas mulai jenjang SD hingga SLTA. (Rusli Lutan, 1999). 6. Persoalan ini diperparah lagi dengan tidak meratanya jumlah dan mutu guru penjas antara daerah perkotaan dan pedesaan, termasuk isyu antara Jawa dan luar Jawa. 7. Apalagi ditambah dengan kekurangan guru penjas di seluruh Indonesia pada tahun 2003 tercatat sebanyak 57.498 orang

Data Kekurangan Guru Penjas SD Pada Setiap Propinsi Th. 2003 : 

Data Kekurangan Guru Penjas SD Pada Setiap Propinsi Th. 2003

Lanjutan . . . : 

Lanjutan . . . Oleh karena itu, pemerintah (Cq. Ditjen Manajemen Dikdasmen/Dit.Tendik Depdiknas) segera mengambil langkah-langkah konkrit yang bersifat mendesak (Crash program) antara lain menggulirkan program pembekalan ini, yaitu dengan memberdayakan guru kelas dan guru agama yang mengajar penjas agar menguasai kemampuan minimal dalam mengajar Penjas di SD. Untuk melihat sejauh mana efektivitas keberhasilan program pembekalan tsb., maka dilakukanlah evaluasi dampak program pembekalan ini secara komprehensif.

Tujuan Evaluasi Program : 

Tujuan Evaluasi Program Tujuan Umum Mengkaji secara sistematis efektivitas model pembekalan pelatihan guru kelas/agama yang tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam penyelenggaraan penjas, sehingga dapat menampilkan kemampuan minimal dalam penyelenggaraan PBM penjas yang bernuansa Sekolah Dasar. Tujuan Khusus Mengungkapkan efektivitas model untuk memenuhi kebutuhan peserta program dalam kaitannya dengan penyelenggaraan PBM penjas. Mengkaji efektivitas pendayagunaan sumber daya yang ada dalam penyelengaraan program pembekalan di daerah masing-masing, termasuk kesan peserta terhadap bahan ajar dan fasilitas pembelajaran penjas pendukung.

Lanjutan . . . : 

Lanjutan . . . c. Mengungkapkan efektivitas penyelenggaraan proses pembekalan baik yang terpusat maupun di daerah. d. Menggambarkan tingkat keberhasilan program berdasarkan hasil belajar menurut hasil evaluasi diri para peserta program dan hasil observasi performa peserta dalam penyelenggaraan PBM penjas di SD masing-masing. e. Memaparkan dampak jangka pendek yang ditimbulkan oleh implementasi PBM penjas dengan pendekatan pendidikan gerak serta modifikasi substansi tugas ajar dan alat yang digunakan yang bernuansa permainan.

Prosedur Studi Evaluasi : 

Prosedur Studi Evaluasi 1. Pendekatan CIPP (Context, Input, Process, dan Product) ditambah dengan jenis evaluasi program menurut model evaluasi program UCLA, yaitu Program Improvement 2. Instrumen berupa kuesioner tertutup yang terdiri atas lima alternatif jawaban yang selanjutnya diubah menjadi skala interval. Terdiri dari Instrumen terbuka, evaluasi diri dan pedoman observasi. Kemudian disediakan kolom khusus komentar untuk diisi secara bebas oleh responden.

Slide 9: 

Teknik Pengolahan dan Analisis Data Menggunakan pendekatan statistik deskriptif dan inferensial, berupa rata-rata, persentase, yang digambarkan dengan grafik, dan teknik analisis korelasi serta regresi sederhana. Populasi dan Sampel Pada tahun 2005, daerah/propinsi yang terlibat sebagai Sampel yang meliputi meliputi 26 propinsi dengan jumlah peserta masing-masing sebagai berikut:

Lanjutan . . . : 

Lanjutan . . .       Kasubdis Tenaga Kependidikan Propinsi = 26 orang       Kasubdis Pendidikan Dasar Propinsi = 26 orang       Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota = 55 orang       Kepala Dinas Pendidikan Kecamatan = 110 orang       Pengawas Group Belajar Tingkat Kec. = 110 orang       Kepala SekolahDasar = 260 orang       Guru Penjas SD = 260 orang   Jumlah = 847 orang

Hasil Yang Dicapai : 

Hasil Yang Dicapai Dalam pernyataan terbuka hampir seluruh responden (96%) dari 4 propinsi mengungkapkan rasa gembira dan bangga sebagai peserta program dengan catatan mereka merasakan manfaat yaitu pemenuhan kebutuhan untuk menjadi seorang guru Penjaskes, meskipun pada taraf pemula, baru mencoba, dengan segala kekurangan. sebagian besar (83%) kepala sekolah masing-masing yang berpendapat bahwa program diklat semacam ini sebagai alternatif yang efisien untuk mengatasi kekurangan guru penjaskes, dan demikian pula persetujuan mereka terhadap model PBM Penjaskes yang diterapkan, karena dipandang sesuai dengan karakteristik siswa SD.

Lanjutan . . . : 

Lanjutan . . . Ungkapan tentang hakikat pendidikan jasmani sebagai pendidikan bersifat menyeluruh, mencakup aspek fisik, mental, sosial, emosional, dan moral, meskipun merupakan respons sesuai dengan rumusan ideal, tetapi menunjukkan indikasi bahwa peserta program memperoleh wawasan baru yakni pendidikan jasmani tidak sebatas kegiatan jasmani belaka, namun mencakup seluruh dimensi pertumbuhan dan perkembangan anak. Peserta program menyatakan kesiapannya menjadi guru Penjaskes dan merasa lebih siap menerima tugas baru, meskipun tugas itu baru diterapkan atau dicoba sedikit-sedikit walaupun sebagian merasakannya sebagai tugas berat.

Lanjutan . . . : 

Lanjutan . . . Berdasarkan tanggapan peserta/responden, hampir tidak ada keluhan yang berarti (0,96%) terhadap isi dan penulisan materi yang dianggap sulit untuk dipahami, kecuali ada sebagian kecil (18,15%) di antara mereka yang menginginkan lebih banyak lagi contoh-contoh, seperti dalam pembuatan model Satuan Acara Pelajaran (SAP) praktik penjaskes, materi P3K, dan kelengkapan ilustrasi untuk beberapa modul terutama pembelajaran penjaskes praktik, selain ada sebagian kecil mereka (21,14%) berkeinginan agar setiap ilustrasi itu juga diberi keterangan secara rinci.

Lanjutan . . . : 

Lanjutan . . . Desain program diklat ini sangat peduli dengan satu prinsip, yaitu guru kelas/agama yang disiapkan menjadi guru Penjaskes ini tidak dianggap bagaikan “mesin” pelaksana yang dibekali dengan peralatan berupa contoh yang siap pakai. Namun mereka disiapkan agar menjadi guru yang kreatif. Tuntutan terhadap revisi modul justru banyak didengar dari para instruktur daerah dan banyak juga kritik tentang perlunya revisi dari segi isi dan redaksional. Keadaan ini boleh jadi karena para instruktur itu terbiasa menilik substansi baku untuk jenjang S1, sementara substansi untuk pembekalan telah dikemasi untuk memenuhi kaidah kesederhanaan hal baru yang ditawarkan untuk memperlancar proses difusi.

Dampak Program : 

Dampak Program Program pembekalan ini juga menimbulkan dampak pengiring negatif berupa tanggapan bahwa tugas baru itu menjadi beban, karena melelahkan. Alasannya tidak muncul dari hakikat pelaksanaan PBM Penjaskes itu, tetapi dikaitkan dengan tugas guru kelas yang begitu banyak baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah (masyarakat). Dari seluruh peserta program terungkap bahwa sebanyak 74% di Sulsel, 74% di Jatim, 86% di Sumbar, dan 85% di Jabar mereka aktif di sekolah. Di lingkungan masyarakat seperti di LKMD dan PKK, guru-guru SD juga aktif dengan persentase yang cukup besar seperti 69% di Jawa Barat, 73% di Jatim, 86% di Sumbar dan 74% di Sulsel.

Lanjutan . . . : 

Lanjutan . . . Sebagian kepala sekolah, seperti juga rekan sejawat guru merasa aneh terhadap pendekatan mengajar yang diperkenalkan kepada guru kelas dan guru agama tersebut. Tanggapan serupa juga muncul dari rekan sejawat yang berlatar belakang pendidikan olahraga (SGO), sebab mereka telah terbiasa dengan pendekatan “lama” yang mengutamakan penguasaan keterampilan berolahraga, atau pendekatan kacabangan, ketimbang penjas. Program pembekalan itu, menurut laporan guru kelas peserta program menimbulkan banyak perubahan, di antaranya yang berkaitan dengan atmosfir akademis. Guru merasa semakin akrab dengan siswanya dan kian terbuka terhadap respons siswa.

Harapan Para Peserta : 

Harapan Para Peserta Pengadaan lapangan dan alat pembelajaran penjaskes yang mencukupi kebutuhan Peningkatan kesejahteraan guru Pengadaan dana untuk mendukung penyelenggaraan Penjaskes Perolehan dukungan dari rekan sejawat Pemerataan hasil pembinaan dan pembinaan guru kelas lainnya Pembinaan program pembekalan secara berlanjut Penambahan waktu Penjaskes menjadi 2 x seminggu Penayangan adegan Penjaskes melalui program tayangan TV Penyempurnaan modul Penyediaan contoh yang lebih banyak dalam perencanaan dan strategi Pembenahan GBPP Penjaskes agar selaras dengan PBM Penerbitan buku acuan Penjaskes Pembekalan selama 1 tahun Pemanfaatan guru-guru lulusan SGO Peningkatan akomodasi dan transportasi selama proses diklat Penyelenggaraan praktikum langsung di SD selama pelatihan terpusat Pengayaan variasi metode, termasuk media visual selama pelatihan

Kesan dan Harapan Kepala Sekolah : 

Kesan dan Harapan Kepala Sekolah Tanggapan kepala sekolah terhadap program pembekalan mengungkapkan aspek kualitatif yang amat mendalam berkenaan dengan proses dan hasil program. Semua kepala sekolah menyambut baik program tersebut dan mendukung program itu (kecuali satu kasus yang menolak) dengan beberapa alasan yang umumnya berkaitan dengan manfaat yang diperoleh dari kegiatan itu. Kepala sekolah melaporkan dampak drastis dari penggairahan Penjaskes yaitu angka kehadiran anak menjadi meningkat karena siswa semakin betah di sekolah, selaras dengan suasana belajar yang lebih bergairah dan menyenangkan. Sementara itu perubahan cepat juga terjadi dalam perilaku seperti anak tidak mengantuk di kelas.

Lanjutan . . . : 

Lanjutan . . . Menurut kepala sekolah, program itu juga membangkitkan dampak pengiring negatif seperti dirasakan menganggu pencapaian target kurikulum meskipun tidak fatal atau mengurangi jatah waktu bagi persiapan EBTANAS untuk guru kelas 6. Penambahan tugas baru itu dinilai sebagai beban bagi guru kelas terutama bagi sekolah yang kekurangan tenaga guru yang terpaksa merangkap beberapa kelas. Akibat lain adalah guru terpaksa meninggalkan pekerjaannya untuk mengajar mata pelajaran tertentu di kelas sebab ia harus mengajar Penjaskes.

Kesimpulan : 

Kesimpulan Program pembekalan pelatihan guru kelas/agama dalam pendidikan jasmani dan olahraga dinilai cukup berhasil untuk mencapai sasaran, pertama, ditinjau dari aspek konteks program yakni untuk mengatasi kekurangan tenaga guru dan pembekalan kemampuan minimal untuk melaksanakan PBM Penjaskes yang bernuansa ke-SD-an. Dari segi evaluasi input, meskipun masih belum optimal, sumber-sumber yang tersedia, seperti modul dan fasilitas pembelajaran penjaskes dapat dimanfaatkan. Hasil program menurut evaluasi diri menunjukkan peningkatan dalam pengetahuan dan keterampilan yang mendahului perkembangan perubahan sikap, dan sebagai guru pemula para guru kelas dan guru agama itu sudah mulai mencobakan PBM baru walaupun masih ada kekurangan di sana sini mulai dari perencanaan hingga penerapan PBM.

Lanjutan . . . : 

Lanjutan . . . dalam waktu relatif singkat pendekatan baru itu menimbulkan dampak positif terutama terhadap perbaikan atmosfir belajar siswa yang lebih bergairah dengan beberapa indikator seperti hubungan sosial guru-murid yang semakin akrab dan terbuka, berkembangnya sifat-sifat demokratis, sehingga guru tidak lagi menjadi penguasa tunggal di dalam kelas. Banyak harapan yang dikemukakan responden (guru dan kepala sekolah) terhadap perbaikan di masa yang akan datang seperti pengadaan sarana, prasarana dan fasilitas pembelajaran penjaskes, peningkatan kesejahteraan guru, dan pembenahan aspek perangkat lunak seperti kurikulum, dan buku pegangan guru.

TERIMAKASIH ATAS PERHATIANNYA : 

TERIMAKASIH ATAS PERHATIANNYA